Stanza Amnesia – BAB 11: Imagine

13/05/2009

BAB 11: Imagine

DISTRO PAK HAYAT SORE itu telah dipenuhi orang-orang yang ingin ikut serta dalam acara bedah lagu. Jaya terlihat sedang berbincang dengan Sasha di salah satu meja baca. Dia masih mengenakan seragam sekolahnya. Wajah Sasha terlihat sangat murung. Begitu juga dengan Jaya.

Thomas keluar dari pintu yang menyambungkan ruangan itu dengan ruang belakang, dia baru saja selesai membantu Pak Hayat dan Ibu Mirah mengupasi singkong yang ia bawa dari rumah tadi siang.

“Hei, Thomas!” Thomas yang baru saja memasuki ruang bacaan yang telah dipenuhi orang itu sedikit pangling saat ada yang memanggil namanya. Ia mencari-cari asal suara itu. Dilihatnya seorang pria berambut pirang keemasan sedang melambai-lambaikan tangan padanya.

“O, Andrew!” seru Thomas. Lalu ia menghampiri orang yang sedang berdiri di depan lemari buku itu. Jaya yang sedang duduk di tengah ruangan itu bersama Sasha melihat temannya menghampiri orang yang tidak dikenalnya. Thomas menjabat tangan Andrew. “Apa kabar?” sapa Thomas.

Andrew tersenyum ramah. “Baik. Kamu sendiri?”

“Baik, thanks,” jawab Thomas.

“Tangan kamu kenapa?” tanya Andrew saat dia melihat tangan Thomas yang terbalut perban.

“O, ini. Bukan apa-apa. Hanya kecelakaan kecil,” jawab Thomas pelan. Andrew tersenyum lagi.

Andrew terlihat sedang membaca sebuah majalah foto copy-an. Thomas mengenali majalah itu. Itu adalah kumpulan karya dia dan teman-temannya beberapa bulan yang lalu. Di sampul depannya tertulis: ‘Black Ikarius edisi ke-10’. Thomas tertegun.

“Oiya,” Thomas memecah kesunyian mereka berdua, “Saya mau minta maaf atas sikap saya tempo hari,” ujar Thomas.

Andrew menatap wajah Thomas. “Hei! What’s up? Justru saya yang merasa tidak enak karena berbicara terlalu kasar.”

Thomas mendesah pelan.

By the way, kumpulan karya kalian ini bagus juga ya?” kata Andrew kemudian.

Thomas menatap Andrew dengan air muka setengah tak percaya atas ucapan orang itu barusan. “Yeah, tapi percuma saja jika tidak ada yang mengerti,” gumam Thomas rendah. Andrew tersenyum tipis.

“Syair puisi haruslah menjadi aksi, bukan hanya menjadi rangkaian kata-kata puitis abstrak yang sama sekali tidak berbahaya,” gumam Thomas lirih.

Tiba-tiba Pak Adit keluar dari pintu Thomas keluar tadi. Dia menepuk-nepukkan kedua tangannya meminta perhatian dari orang-orang di ruangan itu. Suara orang-orang itu perlahan mengecil.

“Kawan-kawan semua. Acara akan dimulai lima belas menit lagi. Dan seperti biasa kita akan berkumpul di ruang sebelah, karena di sana lebih luas. Kalian sudah bisa mencium aroma singkong goreng dari dapur?” Pak Adit berkelakar. Orang-orang di ruangan itu tertawa riuh rendah. Pak Adit masuk ke ruang sebelah.

Beberapa orang segera mengikuti Pak Adit ke ruangan sebelah. Beberapa yang lain masih terlihat membaca buku di meja baca di tengah ruangan itu. Tiba-tiba Sasha berdiri dengan cepat. Jaya di sampingnya tersentak.

“Sasha dengarlah dulu,” Jaya berteriak dengan suara tertahan. Dengan terisak Sasha berlari keluar dari distro meninggalkan Jaya di sana. “Sasha!” Jaya berteriak.

Orang-orang di ruangan itu menoleh pada Jaya yang masih terpaku di sana. Jaya hanya menundukkan kepalanya. Thomas yang melihat kejadian itu segera  menghampiri temannya. Andrew masih berdiri di depan lemari buku itu.

“Ada apa, kawan?” Thomas mengambil tempat di samping Jaya, tempat Sasha tadi duduk. Jaya masih menunduk.

“Harusnya tidak saya katakan itu padanya,” ujar Jaya marah. Thomas di sampingnya berusaha untuk mendengarkan. “Saya tahu dia akan marah saat mendengar itu,” sambung Jaya.

“Kamu katakan itu padanya?” tanya Thomas dengan tenang. Jaya mengangguk.

“Kamu katakan bahwa kamu merasa terbebani untuk membiayai kebutuhan sehari-harinya?” tanya Thomas lagi untuk memastikan.

Jaya mengangguk lagi, kali ini wajahnya meringis. “Saya hanya beri dia saran untuk mencoba kembali pada orang tuanya. Mungkin dengan kepulangannya pertengkaran orang tuanya itu bisa mereda,” cecar Jaya seperti berbicara dengan dirinya sendiri. “Tapi sepertinya dia tidak bisa menerimanya.”

Sekonyong-konyong suara lagu dari ruangan sebelah terdengar. Lagu itu dimulai dengan denting piano, dan kemudian terdengar suara John Lennon melantunkan kata-kata yang legendaris;

“Imagine there’s no heaven, it’s easy if you try.”


Orang-orang di ruangan itu segera berduyun-duyun ke ruangan sebelah.

Pada saat yang sama, Roman sedang terbaring di ranjang Tania. Matanya tidak tertutup. Tangannya masih memegang kertas surat tadi. Ia terlihat sedang berpikir. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara pintu yang terbuka. Tania memasuki ruangan itu. Ia membuka sepatunya dan melemparnya ke belakang pintu.

“Mungkin saya bukan pujangga seperti yang kamu bilang tadi,” gumam Roman sambil berusaha untuk terduduk.

“Apa?” Tania bertanya sambil menghempaskan dirinya di sofa.

“Iya, puisi ini,” Roman mengangkat kertas surat itu ke depan wajahnya, “Saya tidak mengerti.”

“O, itu,” Tania tersenyum. “Sudahlah tidak usah terlalu dipikirkan,” ujarnya kemudian.

“Kenapa kamu tidak tanyakan saja langsung pada si penulis puisi ini, apa maksudnya?” tanya Roman datar.

Tania terkekeh sendiri. “Wirdo, wirdo, seandainya saya tahu siapa pengirim surat-surat kaleng itu, pasti saya sudah menanyakannya langsung sejak dulu,” kata Tania.

“Sebentar, apa kamu tidak merasa aneh?” Roman mengernyitkan dahinya. Tania memandangi Roman di depannya. “Amplop ini tidak berperangko,” ujar Roman sambil menunjukkan amplop biru itu kepada Tania.

“Iya, saya juga sudah berpikir seperti itu. Saya juga sudah berpikir kalau orang ini tidak mengirimkannya lewat pos, tapi dia mengantarkannya sendiri, ke rumah ini.”

“Apakah Ibu Martha tidak pernah melihat ada orang yang mengantarkan surat ini?” tanya Roman.

“Dia bilang, surat-surat itu selalu ditemukannya sedang tergeletak di depan pintu masuk,” kata Tania.

“Oh,” gumam Roman. Wajahnya terlihat serius. Sepertinya ia sangat ingin mengetahui siapa penulis puisi itu.

“Nanti malam saya mau keluar, kalau kamu bosan kamu boleh berjalan-jalan keluar,” ujar Tania.

“Kenapa kita tidak berjalan-jalan sama-sama?” tanya Roman datar.

“Saya bekerja, Wirdo.”

***

Langit sudah menggelap. Hujan asam turun rintik-rintik. Tak ada orang yang memberanikan dirinya untuk berjalan di bawah hujan yang membahayakan itu. Dua orang yang mengenakan whitejacko terlihat berdiri berteduh di bawah plafon emperan rumah distro itu. Sesekali mereka mengintip ke dalam melalui kaca jendela yang tidak terlalu besar itu.

Di dalam ruangan terang itu, orang-orang sedang duduk berkumpul membentuk sebuah lingkaran. Pak Hayat dan Pak Adit berada di tengah-tengah lingkaran itu.

Piring berisi singkong-singkong beredar mengelilingi lingkaran, orang-orang itu mengambil satu untuk mereka masing-masing.

Pak Adit menekan tombol pada remote control yang di pegangnya. Dan CD player di sudut ruangan melantunkan suara musik dari John Lennon lagi;

“Imagine there’s no countries, it isn’t hard to do.”


Pak Hayat memberi aba-aba. Pak Adit menekan tombol itu sekali lagi, sehingga musik itu terhenti lagi.

Pak Hayat tersenyum bijaksana. “Kenapa John Lennon mengajak kita untuk mencoba membayangkan tidak ada negara-negara?” tanya Pak Hayat kepada seluruh orang di ruangan itu.

Seorang perempuan bergaya ala mahasiswi mengangkat tangannya. Pak Hayat menunjuknya. “Karena negara memisah-misahkan umat manusia, Pak,” seru perempuan itu.

Pak Hayat mengangguk seraya tersenyum. “Ada lagi?” katanya sambil melepas pandangannya ke sekeliling ruangan.

Pemuda berambut gimbal mengacungkan jarinya. “Karena negara sekarang tidak menjalankan fungsinya, Pak,” ujarnya dengan suara yang serak.

“Seperti apa?” tanya Pak Hayat lembut.

“Lennon memang menulis lagu itu puluhan tahun yang lalu, tapi mungkin pada saat itu dia juga melihat negara sebagai sebuah institusi yang tidak melindungi hak-hak warganya. Seperti hak untuk mendapatkan pendidikan, hak untuk mendapatkan kehidupan yang layak,” kata pemuda gimbal itu lagi.

“Ada lagi?” tanya Pak Hayat.

Andrew yang duduk agak terpisah dari lingkaran mengangkat tangannya. Pak Hayat menunjuknya.

“Karena hukum negara sudah rusak,” sahutnya pendek terdengar seperti orang yang kesal. Suara gumaman orang-orang di ruangan itu terdengar.

Pak Hayat tersenyum. “Siapa namamu, Nak?” tanya Pak Hayat.

“Andrew,” Andrew tersenyum tipis.

“Andrew, menurutku, hukum tidak pernah rusak. Karena hukum hanyalah perwakilan dari suara hati kita semua. Nilai-nilai benar dan salah dalam hati kita yang ditulis. Maka hukum tidak pernah rusak,” ujar Pak Hayat.

“Tapi kenapa hukum seakan tidak adil? Hukum seperti pisau yang menghadap ke atas dan ke bawah. Tajam pada bagian bawah, tapi tumpul pada bagian atas,” kata Andrew datar.

“Hukum berjalan di atas sistem. Jikalau hukum itu terlihat tidak adil, itu berarti ada kesalahan dalam sistem yang berjalan,” ujar Pak Hayat. Andrew tidak terlihat menunjukkan sikap setuju ataupun sebaliknya atas pernyataan Pak Hayat barusan.

Pak Adit memencet tombol remote control itu lagi.  Dan musik itu terdengar mengalun lagi.

Sementara itu di luar hujan rintik-rintik sudah berhenti. Dua orang yang berdiri di depan jendela tadi meninggalkan emperan distro. Beberapa langkah dari jendela, kedua orang itu berpapasan dengan Tania dan Roman yang sedang berjalan berdampingan.

“Kamu bekerja di mana?” tanya Roman sambil menggigil kedinginan. Tangannya dimasukkan ke saku whitejacko compang-campingnya.

Tania terlihat salah tingkah. “Hei, kenapa kamu memakai whitejacko yang lusuh begitu sih?” Tania mengalihkan pembicaraan.

Roman memandangi whitejacko yang ia kenakan, kemudian ia mengangkat bahunya. “Saya tidak tahu. Apakah saya pernah beli whitejacko yang baru?” tanya Roman. Tiba-tiba ia tersentak sendiri dengan perkataannya barusan. Ia seperti mengingat sesuatu. Suara-suara dari masa lalu terngiang di telinganya; Whitejacko ini memang dirancang sedemikian rupa agar cepat rusak. Mata Roman memicing. Kepalanya mendadak terasa pusing. Ia memegangi kepalanya yang terbalut perban.

“Kamu kenapa, Wirdo?” tanya Tania dengan wajah yang diliputi kecemasan.

“Entahlah,” erang Roman. “Saya seperti mendengar suara saya sendiri di masa lalu.”

“Suara-suara itu seperti apa?” tanya Tania antusias.

“Whitejacko ini memang cepat rusak. Entahlah, saya tidak bisa mengingatnya dengan pasti,” ujar Roman lirih. “Oiya, kamu bekerja di mana?”

Tania tiba-tiba mendelik. “Apa urusan kamu? Apa kamu harus tahu?” bentaknya.

Alis Roman berkerut menerima reaksi Tania. “Tidak, hanya saja, saya tidak siap ditinggal sendirian nanti. Saya… saya… tidak ingat jalan pulang.”

Tania mengerang. “Agh! Tadi sudah saya katakan jangan ikut, kan?”>>

Stanza Amnesia – BAB 10: Kerupuk

10/05/2009

BAB 10: Kerupuk


“PAK, MENURUT BAPAK, apa cara yang paling efektif untuk membuat mereka sadar? Apa cara yang paling efektif untuk mengubah dunia ini?” Pak Adit bertanya pada Bapaknya di ruang kantor distronya.

Pak Hayat yang sedang duduk di depan komputernya menoleh pada anaknya yang duduk di seberang meja. “Cara kamu sudah sangat bijaksana, Nak. Kamu berbicara pada murid-muridmu dengan hati. Secara tidak sadar, akan tertanam pada mereka semua untuk selalu mencintai sesamanya dengan setulus hati,” ujar Pak Hayat. Kemudian Pak Hayat mengetik lagi.

“Tapi cinta ini adalah sesuatu yang sangat abstrak, Pak,” ujar Pak Adit lagi, “Apakah mereka memang harus menginterpretasikannya sendiri?”

Suara mesin printer yang sedang mencetak sesuatu di bawah meja kerja Pak Hayat berbunyi. “Interpretasi? Itu pilihan bagi mereka, Nak. Mereka bebas untuk memilih jalan hidup mereka sendiri. Kita tidak berhak menentukan tempat untuk mereka, mereka lah yang memilih di mana mereka ingin berada,” kata Pak Hayat seraya mengambil kertas yang keluar dari mesin printer itu.

“Tapi jika begitu terus, kita tidak akan pernah punya kesamaan pemikiran, kan? Lalu bagaimana dunia ini bisa satu?” tanya Pak Adit lagi.

“Sebetulnya, itu bukan tugas kita,” jawab Pak Hayat sambil berdiri dari bangkunya. Suara kaki bangku yang terseret di lantai terdengar. “Kita bukan pahlawan bagi orang lain. Kita hanyalah orang-orang yang mencoba berdiri di luar standar-standar yang tercipta. Aku sendiri, telah lama menanti kita semua bisa sama-sama sadar. Tapi ternyata kita masih saja berputar dalam spiral peradaban,” Pak Hayat menuju ke lemari kayu di sudut ruangan itu.

“Jadi maksud Bapak, yang bisa kita lakukan hanya menunggu? Tanpa melakukan apa-apa?” tanya Pak Adit sambil mengikuti Pak Hayat dengan matanya.

“Siapa yang tidak melakukan apa-apa?” tanya Pak Hayat sambil tersenyum. Ia terlihat sedang mencari sesuatu di salah satu laci lemari kayu itu. “Kamu sekarang sudah tidak mengikuti apa yang tivi perintah, kamu tidak terpengaruh dengan standar kebahagiaan yang tercipta, kamu bisa memahami problema ini dan mengaplikasikan ide kamu dengan mengajar anak-anak jalanan itu; Kamu sudah melakukan suatu perubahan yang berarti, Nak. Setidaknya bagi dirimu sendiri.”

“Dan dunia yang satu itu?” tanya Pak Adit kemudian.

“Jangan dipaksakan. Biarkan semua mengalir. Waktu akan mengubah semuanya, yakinlah. Jika kamu tidak sempat merasakan dunia yang satu itu, setidaknya dengan keluar dari standar, kamu telah membuat hidup kamu menjadi lebih menarik, Nak,” kata Pak Hayat dengan bijaksana.

Pak Adit mengangguk seraya tersenyum.

“Nanti sore bedah lagu ya? Minta Roman dan teman-temannya untuk mencabut singkong untuk snack,” seru Pak Hayat kemudian masih sambil mengorek-ngorek isi laci.

“Kata mereka, Roman tidak pulang ke rumah dua malam kemarin.”

“Kapan kamu terakhir ke sana?” Pak Hayat menoleh pada anaknya.

“Sebelum ke sini barusan, aku ke sana dulu. Aku bertemu Thomas, dia tidak kuliah.”

***

Thomas sedang memegangi tangannya yang terbalut perban. Ia terduduk di sofa. Televisi di depannya dalam keadaan menyala. Albert sudah berangkat ke kantor sejak tadi pagi. Jaya pun sudah berangkat ke sekolahnya.

Televisi di depannya sedang menayangkan acara peluncuran levymobile keluaran terbaru. Mata Thomas memandangi layar di depannya dengan tajam.

Orang berambut pirang di televisi itu mengenakan jas warna gelap. Levymobile berwarna biru metalik berdiri di sebelahnya, dan orang itu sedang memamerkannya pada pemirsa televisi. “Levymobile ini memiliki banyak keunggulan. Di antaranya, atap yang convertible, kecepatan yang lebih tinggi, kaca depan yang anti pantulan cahaya, joknya yang lebih nyaman; yang bisa membuat pengemudinya terasa seperti sedang berada di rumah sendiri, dan juga yang tidak kalah menariknya adalah kaca depan yang bisa berfungsi sebagai monitor komputer yang resolusinya bisa diatur; yang memungkinkan bagi para pekerja untuk bisa tetap bekerja walaupun itu sedang berada di dalam perjalanan, tentunya ini butuh asisten, hahahaha…”


“Diamlah kau, manusia pengeksploitasi!” Thomas membentak. Nafasnya terengah-engah.

“Dan bagi anda yang mengaku sebagai manusia yang modern, akan sangat munafik jika tidak membeli kecanggihan teknologi yang satu ini, karena…” Thomas mematikan televisi itu tiba-tiba. Mukanya memerah menahan amarah. Lalu dia menuju ke meja panjang di tengah ruangan itu.

Kertas-kertas ukuran A4 berserakan di atasnya. Dia duduk di salah satu bangku, dan mencoba meneruskan karyanya yang belum selesai. Dengan tangannya yang terbalut ia mencoba meraih pensil. Tangannya gemetar. Tiba-tiba dia menggebrak meja dengan keras. Pensil di tangannya melayang ke udara sebelum akhirnya menggelinding di lantai.

“Percuma!” Thomas berteriak lagi. “Percuma sama sekali! Mereka tidak akan mengerti gambar-gambar ini!” Thomas merobek-robek kertas-kertas di atas meja itu dengan emosi yang meluap-luap. Serpihan-serpihan kertas itu berjatuhan ke atas meja dan juga ke lantai.

Ketika tak ada lagi kertas yang bisa disobek, Thomas termenung. Matanya terbelalak. Keringat di dahinya mengendap. Kemudian ia menjenggut rambutnya sendiri dengan kedua tangannya. Matanya memejam rapat, sehingga kerutan di sudut matanya tercipta. Urat-urat kecil di dahinya keluar. Mulutnya menganga, seperti ingin meneriakkan sesuatu, tapi tak ada satu pun kata yang keluar. Nafasnya memburu.

Tiba-tiba telepon di sudut ruangan berdering. Thomas terlonjak. Ia seperti baru saja disadarkan dari kegilaan sementara. Nafasnya masih terengah-engah. Matanya nanar. Telepon itu masih berdering, dan ia pun berjalan menuju pesawat telepon itu. “Halo,” Thomas mengangkat gagang telepon dengan suara parau.

“Halo, Thomas! Ini Pak Adit,” kata suara di seberang sana. “Cuma mau mengingatkan, nanti sore ada bedah lagu, kalau kamu sempat tolong cabutkan singkong di belakang rumah, untuk snack,” Pak Adit langsung berbicara tanpa terputus.

Nafas Thomas mulai normal kembali. “Baik, Pak,” ujar Thomas dingin. Ia pun menaruh gagang telepon ke tempatnya semula. Dan dia segera keluar dari ruang televisi.

***

Pintu hijau muda itu terbuka dari dalam. Martha melongokkan kepalanya. Ia melihat Tania sedang bersama seorang pemuda yang tidak dikenalnya. Tania berusaha untuk tersenyum, senyum yang dipaksakan untuk keluar.

“Bolehkah kami masuk?” tanya Tania dengan ragu-ragu.

Martha menatap pemuda itu sekali lagi. Pemuda itu adalah Roman yang mengenakan whitejacko compang-camping. Dahinya terbalut perban. Dan Martha segera mengetahui bahwa itu adalah pemuda yang diceritakan Tania. Martha membuka pintu itu lebar. Dan dia segera menyampingkan tubuhnya.

“Terima kasih, Martha,” ucap Tania dengan Ramah. Ia melangkah masuk.

“Tumben kamu ramah,” sahut Martha saat Roman mengikuti Tania memasuki pintu itu. Ketika dua orang itu sudah berada di dalam, Martha kembali menutup pintu itu. “Kita harus bicara, Tania.”

Tania mengangguk-anggukkan kepalanya cepat. “Ngg, Wirdo, kamu… kamu…” Tania terbata-bata.

“Suruh dia menunggu di kamarmu,” potong Martha cepat.

Tania mengantarkan Roman menaiki anak tangga di depannya. Martha menyusul di belakangnya. “Aku tunggu di kamarku, Tania,” ujar Martha saat dia sudah berada di depan pintu kamarnya, lalu Martha masuk ke kamarnya.

“Kamu masuk dulu, Wirdo, nanti saya menyusul,” kata Tania sambil membuka kunci kamarnya. Ketika pintu itu sudah terbuka Roman masuk ke kamar itu. Lalu Tania menyusul Martha ke kamarnya.

Di kamarnya, Martha duduk di ranjangnya yang kecil. Jendela di atas kepala tempat tidurnya dalam keadaan terbuka. Sinar matahari tidak pernah menyorot kamar itu langsung, sebab bangunan rumah ini berdiri di belakang gedung tinggi. Selain itu, bangunan yang berada di dalam lorong ini menghadap ke arah utara. Tidak heran kalau kamar ini selalu lembab.

Martha mendelik. “Oke, jelaskan,” seru Martha.

Tania mengambil tempat di samping Martha. “Dia amnesia, Martha,” kata Tania dengan suara yang sengaja ditahan.

He what?!” Martha berteriak seperti tercekik. Bola matanya membesar.

“Iya, Martha. Dia hilang ingatan, dan sialnya saya tidak tahu identitasnya,” ujar Tania seperti merengek.

“Lalu, kamu mau taruh di mana gembel itu?” tanya Martha dengan ciri khasnya yang selalu menyebut teman-teman pria Tania dengan sebutan-sebutan hina seperti : bajingan, begundal, gembel, dan lain-lain.

“Dia bukan gembel, Martha,” Tania mengingatkan.

“Hah! Lihat saja whitejackonya lusuh dan dekil seperti itu,” kata Martha yang segera disergah oleh Tania.

“Dia seniman, Martha.”

Martha memicing. Dia melihat Tania lebih dekat. “Kamu tahu dari mana?” tanyanya dengan tatapan curiga.

“Saya pernah melihatnya di Café Starbig sedang membacakan puisi,” seru Tania.

“Benarkah?” tanya Martha penuh selidik.

“Hah? Apa maksud anda?” Tania tidak mengerti arah pertanyaan Martha.

“Benarkah, perban di dahinya itu asli?”

Tania mendengus keras. “Anda mengira saya berbohong? Anda mengira saya mencari alasan untuk bisa mengajak teman pria untuk bisa masuk ke rumah kost khusus perempuan ini? Iya?” cecar Tania. “Silakan buka perbannya, anda akan melihat lobang bekas peluru di dahinya.”

Martha bergidik. Dan kemudian air mukanya terlihat sedikit melunak. “Listen to me! Selama ini, tidak pernah ada pria yang masuk ke rumah kost ini,” ujar Martha. “Tapi kali ini, aku tidak tahu harus berbuat apa untuk kasusmu ini, Nak.”

Tania menghela nafas lega. Wajahnya tertunduk pasrah.

“Kamu pasang iklan saja di koran, dan umumkan ada orang hilang yang tidak ingat identitasnya, yang sedang mencari siapapun yang kenal dengan dia,” usul Martha kemudian.

Tania menggeleng. “Terlambat, Martha,” ucapnya lirih. Martha berkernyit. “Terlambat, saya sudah mengakuinya sebagai suami saya.”

Martha menepuk dahinya sendiri dengan keras. “Kenapa kamu sebodoh itu sih?” matanya kembali terbelalak.

“Dengar, saya terdesak, saya tidak tahu keterangan apa yang harus saya berikan pada polisi malam itu. Jika saya bilang saya hanya melihatnya sedang terkulai di sana, polisi akan lebih banyak mengorek keterangan dari saya. Dia akan mencari saksi ke dalam café itu, dan menanyakan pada orang yang melihat saya keluar dari café itu; jam berapa saya keluar. Lalu polisi akan curiga, sebab saya berada cukup lama di luar café itu, sebelum saya masuk ke dalam café itu lagi untuk meminta bantuan.”

Martha menunduk pasrah. “Baiklah, bagaimana baiknya saja lah,” ujar Martha pasrah. Lalu Tania menuju ke kamarnya dengan gontai.

Di kamar Tania, Roman sedang duduk di tepi ranjang. Tiba-tiba Tania membuka pintu itu dari luar. Roman tersentak sedikit. Tania membanting pintu di belakangnya. Tas ransel yang sejak tadi dipanggulnya dilempar ke sofa di salah satu sisi ruangan.

Lalu Tania berdiri di depan Roman. Roman mendongakkan kepalanya untuk bisa melihat wajah Tania. Mata Roman berkedip-kedip.

“Benarkah kamu istri saya?” tanya Roman datar.

“Bukan!” Tania langsung membentak. Roman terlonjak mundur sedikit. “Saya bahkan tidak tahu siapa kamu,” kata Tania kemudian.

“Kamu tidak tahu siapa saya?” Roman terlihat sangat lemah. Ia merunduk.

“Kamu mau tahu kenapa kamu bisa seperti ini?” tanya Tania. Roman mengangguk lemah, kemudian ia menatap Tania lagi.

“Kamu tertembak tepat di kepala, dan saya orang yang menolongmu. Kamu tidak ingat itu juga?”

Roman menggeleng pelan. Tania beringsut dari hadapan Roman, dia menggerutu sendiri dengan kata-kata yang tidak terdengar jelas. Roman memandanginya dengan heran.

“Saya tidak tahu harus mulai dari mana, Dokter bilang saya harus memancing memori kamu,” gumam Tania sambil mondar-mandir di depan Roman. Dia mencoba mengingat-ingat sesuatu. Tiba-tiba dia berhenti dan menghadap ke muka Roman lagi. “Kamu adalah seorang seniman, kamu membaca puisi,” ujarnya sambil menunjuk-nunjuk muka Roman. Muka Roman meringis mencoba mengingat sesuatu dari keterangan yang diberikan Tania.

“Kamu ingat?” tanya Tania kemudian. Tapi Roman sepertinya tidak mengingat itu, wajahnya yang meringis menunjukkan ia tidak mampu mendapatkan sesuatu dari keterangan yang diberikan Tania. “Gosh! Seandainya saya ingat puisi kamu.”

“Benarkah saya penulis puisi?” tanya Roman pelan.

“Ah iya! Kerupuk, kerupuk!” Tania terlonjak-lonjak kegirangan. “Kamu ingat sesuatu tentang kerupuk?” tanya Tania sembari menyeringai.

Roman  menggaruk hidungnya sambil matanya memicing. “Bisa lebih spesifik?”

Tania menatap ke langit-langit kamarnya sambil mulutnya berkomat-kamit dengan cepat. Tangannya yang memegang dagu mengetuk-ngetukkan telunjuk ke bibirnya yang tipis. Roman memperhatikannya dengan seksama.

“Kerupuk apa ya? Ah iya,” Tania kembali berseru. “Waktu itu kamu bilang, selama ini saya hanya merasakan cinta kerupuk. Iya cinta kerupuk!”

Tania menanti reaksi Roman, tapi tampaknya tidak ada hasil. Roman mengangkat pundaknya. “Maaf,” ujar Roman pelan.

“Ah! Sudahlah!” Tania bersungut sambil mengambil ransel di sofa itu dan menuju pintu kamarnya.

Roman sedikit heran karena ditinggal seperti itu. “Kamu mau kemana?” tanyanya lirih.

“Saya mau kuliah,” sahut Tania saat membuka pintu kamarnya. Ketika ia membuka pintunya, Tania melihat Martha sedang hendak membuka pintu itu. Tania sedikit terkejut.

“Jangan salah sangka, aku bukan sedang menguping,” Martha memperingatkan. Tania melihat amplop biru di tangan Martha dan kemudian dia mengambilnya.

“Baru datang?” tanya Tania.

“Ya,” ujar Martha singkat dan segera beranjak dari depan kamar Tania. Tania kembali masuk ke kamarnya. Dia membuka amplop biru itu. Roman memperhatikannya.

Tania menarik secarik kertas dari amplop yang telah ia sobek. Ia menelitinya sebentar. “Ah, lagi-lagi puisi,” erangnya. “Ini, coba baca, kamu kan pujangga. Siapa tahu kamu bisa mengerti. Oiya kamu masih bisa membaca, kan?” Tania melempar kertas surat itu pada Roman dan kemudian ia meninggalkan Roman sendiri di sana.

Roman membaca surat itu dalam hatinya.

“Datanglah ia sekali lagi, matahari yang sama.

Menyaksikan ini setiap pagi, tak membuatku menjadi dewasa.

Hadir lagi mereka, bintang-bintang di angkasa.

Namun mereka semua, tidak menceritakan apa-apa.

Apakah harus ku hiraukan saja itu semua?”>>

Stanza Amnesia – BAB 9: Retrograde

10/05/2009

BAB 9: Retrograde


MALAMNYA, THOMAS SEDANG BERDIRI di depan cermin lagi. Ia terlihat sedang berbicara dengan dirinya sendiri. Matanya menatap tajam pada bayangannya di dalam cermin. Mulutnya berkomat-kamit. Tangan kirinya memegang gambar-gambar hasil karyanya. Kemudian dia menekan gambar itu ke dinding di samping cermin itu.

“Saya bukan kaki ataupun tangannya. Saya memiliki suara hati yang juga meminta untuk diikuti. Apa yang saya yakini? Semuanya ABSURD!” Thomas meninju cermin di depannya dengan keras.

Mendengar suara pecahan keras dari kamar Thomas, Albert dan Jaya berlari dari ruang televisi.

“Thomas! Tom! Kamu tidak apa-apa?” Albert memanggil-manggil dari luar pintu kamar Thomas yang tertutup. “Tom! Buka pintunya,” Albert menggedor-gedor pintu itu.

Dengan tangan yang berdarah Thomas terduduk lemas di lantai. Ia tidak mempedulikan suara Albert dan Jaya yang memanggil-manggil namanya. Matanya menatap ke pecahan-pecahan cermin. Suara-suara Andrew kemarin siang di kampus terngiang-ngiang di telinganya.

Roman adalah seorang diktator. Roman adalah seorang utopis. Roman adalah seorang pemimpi utopis,” Thomas menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir suara-suara itu dari kepalanya, tapi seakan-akan suara itu semakin keras.

Mimpimu, harapanmu, tak akan terwujud. Abstrak haruslah menjadi kongkrit. Syair puisi harus menjadi aksi. Kalian tidak akan bisa mewujudkan mimpi kalian hanya dengan kata-kata,” mata Thomas terpejam rapat. Mulutnya menganga.

Kalian tidak akan bisa mewujudkan mimpi kalian… Kalian tidak akan bisa mewujudkan mimpi kalian… Kalian tidak akan bisa mewujudkan mimpi kalian…

Thomas berteriak dengan keras, “AAAAAAAAAAGGGGHHH!!!!!!”

Sementara itu di Rumah sakit, mata Roman terbuka secara tiba-tiba. Ia membelalak dan melihat ke sekelilingnya. Ada seorang perawat di samping ranjangnya yang sedang mengganti kantong infusnya. Perawat itu terkejut melihat pasiennya telah sadar.

“O, my Goodness!” perawat itu pun langsung lari untuk memanggil dokter.

Roman yang masih lemah terlihat ingin beranjak dari ranjangnya, tapi ia terlalu lemah, ia terkulai kembali.

***

Suara kicau burung penyanyi terdengar dari pohon-pohon cemara di taman Rumah sakit itu. Beberapa pasien yang sedang berjalan tertatih-tatih berpegangan dengan walker-nya. Mereka sedang menikmati pagi dengan mengelilingi taman yang dipenuhi bunga berwarna-warni. Beberapa perawat mengawasi pasien-pasien mereka dari kejauhan. Taman luas itu dinaungi kaca tebal transparan berbentuk kubah yang dilapisi bahan kimia yang sama dengan bahan yang dipakai untuk membuat whitejacko. Sehingga sinar matahari pagi itu masih bisa mereka lihat, tetapi radiasinya tidak sampai pada kulit mereka.

Roman terlihat sedang duduk di salah satu bangku taman itu, matanya kosong menatap keindahan taman buatan itu. Kepalanya masih terbalut perban dan ia mengenakan pakaian Rumah sakit, yang juga dikenakan oleh pasien-pasien yang lain. Suara air mancur buatan di sampingnya bergemericik saat menghantam batu-batu alam.

Tania dan Dokter berkepala setengah botak itu mengamati Roman melalui jendela Ruang Dokter.

“Ini keajaiban,” gumam Dokter. “Semalam dia sadar, dan pagi ini dia sudah ingin berkeliaran. Ini keajaiban,” ulang Dokter itu.

“Bisakah saya berbicara dengannya, Dokter?” tanya Tania.

Dokter itu menarik nafasnya sambil meringis. “Seperti yang saya prediksikan kemarin, mungkin dia akan terkena hilang ingatan,” kata Dokter itu sambil menatap Tania dengan iba. Dokter itu terdiam beberapa saat. “Dia sepertinya tidak mengenali dirinya sendiri. Saya khawatir dia juga tidak mengenali Anda,” ujar Dokter itu kemudian.

“Hah?” Tania terkejut.

Dokter itu berjalan ke kursinya di belakang meja dan duduk di sana. Tania melangkah ke kursi di seberangnya dan duduk di sana.

“Begini, Nyonya Wirdo,” Dokter itu memulai, “Amnesia, punya tiga tipe umum; Anterograde, retrograde, dan transient Global. Tuan Wirdo sepertinya terkena retrograde amnesia,” jelas Dokter itu.

“A… apa itu?” Tania terbata-bata.

“Retrograde. Pasien tidak bisa mengingat peristiwa dan informasi sebelum ia menderita kecelakaan,” kata Dokter itu.

“Apakah ada penyembuhan untuk itu?” tanya Tania.

“Terapi adalah metode yang sangat dibutuhkan. Terapi bisa mempercepatnya mengingat kembali informasi-informasi yang terdahulu, termasuk identitasnya,” kata Dokter itu pelan. “Mungkin memang akan lama. Dibutuhkan kesabaran ekstra untuk menangani pasien penderita amnesia ini. Tapi kadang, memori-memori masa lalu itu akan datang sekilas-sekilas dalam diri penderita. Itu juga yang bisa membantunya untuk memancing memorinya.”

“Apakah rehabilitasi Rumah sakit ini bisa membantu?” tanya Tania kemudian.

“Maaf, Nyonya?” tanya Dokter itu dengan nada setengah ragu.

“Apakah rehabilitasi di Rumah sakit ini bisa membantu penyembuhannya?” ulang Tania dengan suara sedikit lebih keras.

Dokter itu tersenyum. “Nyonya Wirdo, rehabilitasi di Rumah sakit ini hanya menangani pasien-pasien yang kesulitan untuk kembali pada pemulihan fisik setelah kecelakaan; Seperti berjalan, berbicara, dan lain-lain. Tapi untuk mengembalikan memori,” Dokter itu menggeleng dan kemudian melanjutkan, “Itu adalah tugas orang-orang terdekatnya.”

Tania tertegun mendengar penjelasan Dokter itu barusan. Ia bingung, apa yang harus dilakukannya dengan orang asing ini. Seandainya Dokter ini menyuruh saya untuk membawa pulang orang ini, harus saya taruh di mana dia? batin Tania.

“Anda siap menemui suami anda, Nyonya Wirdo?” tanya Dokter itu memecah lamunan Tania. Tania tergagap dan kemudian mengangguk cepat.

***

Tania dan Dokter berkepala setengah botak itu berjalan berdampingan menyusuri bunga-bunga berwarna-warni di kanan dan kiri mereka. Tania sejak dari Ruang Dokter tadi hanya diam tanpa kata-kata. Di depan sana dilihatnya Roman sedang berbicara dengan seorang perawat gemuk. Ia terduduk di bangku taman itu sementara perawat gemuk itu berdiri di hadapannya. Dan Tania sedang menuju ke sana, wajahnya terlihat sangat gelisah.

I’m sorry, Tuan Wirdo. Saya tidak tahu. Tapi sepertinya jika dilihat dari mata Anda, Anda adalah seorang yang romantis,” jawab perawat itu sambil tersenyum. Roman masih menatapi bunga-bunga di sekelilingnya.

Tak lama kemudian Tania dan Dokter itu telah tiba di dekat Roman dan perawat itu.

Good morning, Tuan Wirdo. Bagaimana kabar anda hari ini?” tanya Dokter itu sambil berjalan ke depan Roman. Roman sedikit terkejut dan dia menatap wajah Dokter itu dengan tatapan yang lugu.

“Baik, Dokter,” jawab Roman lemah. Tania pelan-pelan mendekati Dokter itu dan berdiri di sampingnya.

“Lihat siapa yang saya bawa, Tuan Wirdo,” seru Dokter itu sambil menoleh pada Tania yang telah berdiri di sampingnya. Roman memandangi Tania dengan alis yang berkerut.

“Siapa dia?” tanya Roman datar.

Dokter itu menghela nafasnya sambil memandangi Roman dengan tatapan iba. “Anda tidak mengingatnya?” tanya Dokter itu kemudian. Roman terlihat sedang berusaha keras untuk mengingat, wajahnya meringis.

“Saya kasih petunjuk, ya?” ujar Dokter itu dengan nada bersahabat. “Pernikahan,” kata Dokter itu.

Roman masih berkernyit. Tania menatapnya dengan mata yang panik.

“Cincin kawin?” Dokter itu mencoba lagi. Roman menggeleng pelan. Dokter itu mendengus. “Lihat wajahnya,” ujar Dokter itu.

Roman membuka matanya yang terpejam dan menatap wajah Tania yang sedang panik itu. Mata Roman berkedip-kedip seperti sedang menganalisa sesuatu. “Dia adalah perempuan yang sangat tertekan hidupnya,” ujar Roman datar.

Dokter itu tersentak dan kemudian tertawa pelan. “Mengapa anda mengatakan itu, Tuan Wirdo?” tanya Dokter itu sambil tertawa.

“Matanya terbelalak seperti ada sesuatu yang ingin ia katakan, tapi ia seperti tidak bisa mengatakannya,” kata Roman. Tania melotot. Dokter di sampingnya tertawa lagi.

“Tuan Wirdo, dia istri anda,” ujar Dokter itu masih sambil tertawa.

Roman tersentak. “Hah?” ujarnya kaget. “Saya sudah menikah?”

“Ya,” ujar Dokter itu. “Anda mau pulang, Tuan Wirdo?”

Tania terlihat sedikit resah.

“Pulang? Pulang ke mana?” tanya Roman dalam keterkejutannya.

“Rumah Anda. Rumah Anda dan istri Anda tercinta,” kata Dokter itu pelan.

Suara gemericik air mancur dan kicau burung mengisi kekosongan suasana itu. Tania hanya terdiam dan tidak tahu apa yang harus dikatakannya, sementara Roman masih tidak yakin dengan informasi yang baru saja didapatnya. Dokter itu mengajak Roman berdiri. Dan mereka pun meninggalkan bangku taman itu.

“Saya akan kemasi barang-barang Anda, Tuan Wirdo,” seru perawat gemuk itu riang sambil berjalan mendahului mereka.

“Terima kasih, Marry,” seru Roman lemah.>>

Stanza Amnesia – BAB 8: Nyonya Wirdo

09/05/2009

BAB 8: Nyonya Wirdo

KEESOKAN PAGINYA, THOMAS sedang berdiri di depan cermin yang tergantung di dinding kamarnya. Tangannya memegang sisir, rambut cokelat gelapnya yang masih basah itu disisir ke belakang. Tiba-tiba Albert yang sudah berpakaian seragam berwarna abu-abu melongokkan kepalanya dari balik pintu.

“Roman tidak pulang semalam?” tanya Albert datar. Thomas hanya mengangkat pundaknya sambil terus menyisir. Albert langsung beranjak dari depan kamar itu.

Jaya baru keluar dari kamarnya, di samping kamar Thomas. Ia sudah terlihat rapi di bawah seragam sekolahnya. “Kak Roman tidak pulang?” tanyanya pada Albert sambil menutup pintu kamarnya.

Albert menggeleng sambil lalu. Alis Jaya berkernyit. “Entah kemana anak itu, sungguh tidak biasanya,” ujar Albert sambil menuruni tangga. Jaya membuntutinya.

Thomas keluar dari kamarnya, ia menutup pintu dan segera menyusul kedua temannya yang telah turun lebih dulu.

“Hei Albert! Kamu naik bis umum lagi kan hari ini?” Thomas berteriak saat Albert dan Jaya sudah di ambang pintu keluar.

“Iya lah. Majorcorps belum mengganti bis-bis itu,” seru Albert sambil mengenakan whitejackonya. Jaya mengambil whitejacko miliknya dari gantungan di dekat pintu dan kemudian mengenakannya. Albert mengambil whitejacko milik Thomas dan melemparkannya pada Thomas. Dan mereka pun keluar dari rumah kost itu.

Di luar mereka segera disambut oleh suara-suara desingan mesin di angkasa. Mereka bertiga berjalan menyusuri trotoar.

“Semalam apa kata orang tua Kak Roman di telepon?” tanya Jaya pada Albert yang berjalan di sampingnya.

“Dia hanya mau mengetahui kabar anaknya,” ujar Albert. “Ayahmu tidak pernah menelponmu, Tom?” tanya Albert pada Thomas yang berjalan di depannya.

Thomas mendengus. “Dia bahkan tidak pernah rela kalau saya mengambil fakultas seni rupa,” ujar Thomas datar. “But thank God, dia masih mau membiayai saya.”

“Para Orang tua kita itu seakan tidak pernah mengerti keinginan kita ya?” sahut Jaya tiba-tiba.

“Yeah! Katakan itu pada orang tuamu dan dia akan mengatakan, bahwa kamu lah yang tidak tahu apa yang sebenarnya kamu inginkan,” sembur Thomas. Jaya hanya merunduk disentak begitu.

Mereka tiba di depan halte pemberhentian bis umum. Halte itu berbentuk seperti rumah kaca. Orang-orang yang menunggu kedatangan bis berdiri di dalamnya. Thomas dan teman-temannya menaiki anak tangga untuk mencapai halte itu.

Di depan loket, Thomas mengumpulkan uang teman-temannya dan kemudian ia membeli tiga karcis untuk masuk ke halte.

Tak lama kemudian Thomas telah mendapatkan tiga karcis untuknya dan teman-temannya, setelah ia memberikan masing-masing teman-temannya satu karcis, mereka menuju pintu masuk halte itu. Petugas penjaga pintu masuk itu meminta karcis pada mereka yang hendak masuk. Setelah mereka memberikannya, petugas itu mengijinkan mereka untuk masuk ke ruangan yang dilapisi kaca tebal itu. Beberapa orang terlihat sedang berdiri di dalam halte itu. Dan tiga sekawan itu bergabung bersama orang-orang yang telah lebih dulu berada di situ. Albert melihat tulisan : ‘No Smoking’ di salah satu sudut, dan ia mengeluh, “Ah! Menunggu adalah suatu hal yang membosankan.”

Sesaat kemudian, sebuah bis melaju mendekati halte itu. Orang-orang yang tadi berdiri dalam posisi yang agar merenggang, serta merta mendekati pintu mekanis di depan mereka. Ketika pintu bis itu telah merapat dengan pintu mekanis, pintu bis itu terbuka bersamaan dengan terbukanya pintu halte mekanis. Dan mereka semua masuk ke dalam bis itu secara bergiliran.

Di dalam bis, Jaya segera berlari menuju tempat duduk yang terlihat masih kosong. Albert dan Thomas berjalan dengan santai. Mereka berdua tidak mendapatkan tempat duduk, maka mereka berdiri di depan tempat Jaya duduk.

Tempat duduk dalam bis itu adalah tempat duduk yang memanjang di kedua sisinya. Maka badan bis itu lebih menyediakan tempat bagi orang-orang yang tidak kebagian tempat duduk untuk berdiri.

Bis itu perlahan-lahan bergerak maju meninggalkan halte. Tiba-tiba Thomas tersenyum sinis tanpa ada penyebab, Albert yang berdiri di sebelahnya menoleh dan menatapnya dengan mata yang bertanya-tanya.

“Lucu,” kata Thomas kemudian sambil tersenyum seolah menjawab tanya yang tersirat pada wajah temannya. Albert masih memandanginya. “Lucu sekali kita. Berteriak-teriak lewat karya-karya, tapi kita masih naik bis ini,” lanjut Thomas.

“Kamu mau jalan kaki ke kampus?” tanya Albert.

“Lihatlah orang-orang di dalam bis ini,” ujar Thomas sambil melepas pandangannya ke sekeliling, seolah tidak menggubris pertanyaan Albert sama sekali. Albert mengikuti pandangan temannya. “Kamu pikir mereka peduli bahwa mereka sedang tereksploitasi? Dan apakah kamu pikir kita sendiri adalah orang-orang yang betul-betul sadar?” tanya Thomas kemudian dengan suara tertahan.

“Kebanyakan dari mereka juga sama seperti saya, Tom. Mereka bekerja. Bekerja untuk bisa hidup, karena memang keadaannya seperti ini,” ujar Albert dengan tenang.

“O yeah? Tapi seharusnya jika mereka mau, mereka bisa mengubah semua keadaan ini. Mereka tidak harus mengikuti standar global ini, dan kamu juga tidak perlu mati-matian menjadi pembawa arsip di kantor mu itu,” cecar Thomas.

“Berikan saya satu jalan,” ujar Albert datar.

Damn it, Al! Kalau saya tahu juga saya sudah membuat dunia saya sendiri, yang lepas dari standar-standar kebahagiaan ini,” kata Thomas sambil meringis. “Lihat di atas sana! Levy-levy menjadi tujuan hidup mereka semua. Lihat mata orang-orang ini, kosong, tak ada harapan. Karena yang mereka pikirkan hanya bagaimana caranya mereka bisa melayang di atas levy itu dan meninggalkan kemacetan kota ini. Sedangkan mereka tidak akan pernah bisa mendapatkannya. Itu terlalu mahal buat mereka yang penghasilannya tak lebih besar dari penghasilanmu.  Mereka harus revolusi untuk bisa mendapatkannya.”

“Huss! Hati-hati kamu bicara seperti itu di depan umum! Itu adalah topik yang sangat sensitif,” hardik Albert langsung. Jaya memandangi kedua teman di depannya dengan mata yang polos.

Thomas tersenyum sinis. “Saya rasa, saya akan berbuat sesuatu yang lebih nyata,” ujar Thomas kemudian.

Like what?” tanya Albert.

I don’t know. Setidaknya lebih nyata daripada sekedar membuat karya-karya yang tidak akan dimengerti oleh orang-orang,” ujar Thomas dengan gerak tubuh yang gelisah. “Minimal mereka harus tahu, bahwa daging gulung yang digembar-gemborkan tivi, tidaklah sehebat itu. Dan sebetulnya mereka bisa menciptakan kebahagiaan mereka sendiri.”

Albert melirik Jaya. Mata Jaya mendelik karena mendengar kata ‘daging gulung’ barusan.

Bis yang mereka tumpangi melewati depan Rumah sakit Centralis.

Terlihat Tania sedang berjalan memasuki pelataran parkir Rumah sakit itu. Tas ranselnya menggantung di bahu kanannya.

***

Roman terbaring di atas ranjang. Seluruh bagian kepalanya terbalut perban, hanya wajahnya yang tidak tertutupi. Selang bercabang dua dimasukkan ke lubang mulutnya sedemikian rupa. Selang infus tersemat di lengan kanannya. Kedua matanya terpejam rapat. Nafasnya berhembus dan menarik cepat dengan irama yang teratur. Suara ‘beep‘ dari alat di sampingnya menciptakan irama yang teratur pula. Ruangan itu sangat tenang.

Ranjang Roman berada di tengah-tengah ruangan yang dipenuhi ranjang-ranjang lain. Beberapa dokter sedang berdiri memegang catatan mereka masing-masing di sisi ranjang-ranjang itu. Sesekali terdengar suara guliran roda ranjang yang sedang didorong oleh perawat.

Tiba-tiba pintu kayu di sudut ruangan itu terbuka. Tania masuk didampingi seorang perawat gemuk berpakaian serba putih. Perawat itu menunjukkan tempat Roman terbaring pada Tania. Lalu mereka berdua berjalan ke arah ranjang Roman.

Sesampainya mereka di samping ranjang Roman, perawat itu memeriksa kantong infus yang tergantung di tiang besi, di samping ranjang Roman. Dan perawat itu terlihat mencatat sesuatu. Tania memandangi Roman dengan tatapan hampa, tanpa perasaan.

“Anda mau berbicara dengan Dokternya?” tanya perawat itu dengan suara pelan.

***

“Tuan Wirdo, adalah orang yang beruntung,” ujar Dokter berkepala setengah botak itu. “Lihat,” Dokter itu berdiri dari kursinya dan menuju ke satu sudut ruangan itu. Tania yang duduk di seberang meja itu hanya mengikuti dokter itu dengan matanya.

Dokter itu menekan saklar, dan lampu di belakang foto-foto hasil rontgen itu menyala.

“Peluru kecil ini,” ujar Dokter itu sambil menunjuk salah satu foto hasil rontgen kepala Roman, “menembus bagian depan kepala, lobe. Tapi untungnya dia tidak mengenai sistem otak,” Dokter itu tersenyum.

“Apakah dia akan baik-baik saja?” tanya Tania datar.

Dokter itu menarik nafasnya. “Well, peluru sudah kami keluarkan. Dan sejauh ini operasi bisa dikatakan berhasil. Tapi…,” Dokter itu berhenti, berdecak sebentar dan kemudian melanjutkan, “Pendarahan bagian dalam yang menyumbat pembuluh tampaknya akan menyebabkan otaknya kekurangan oksigen. Well, kami belum tahu seberapa parahnya,” ujar Dokter itu dengan suara lirih.

“Minimal seberapa parah, Dokter?” tanya Tania penasaran.

Dokter itu menelan ludahnya dan berusaha untuk berbicara lagi. “Nyonya Wirdo, sepanjang pengalaman kami dengan kasus-kasus kecelakaan serius di kepala,… suami anda mungkin akan mengalami hilang ingatan,” Dokter itu memandangi wajah Tania untuk memastikan Tania baik-baik saja.

“Seberapa parah?” tanya Tania lagi.

“Kami belum bisa memastikannya,” ujar Dokter itu lemah. “Kami belum bisa memastikannya.”

***

Di koridor rumah sakit, Tania berdiri depan kotak telepon koin. Wajahnya terlihat sangat kesal. Tangannya yang memegang gagang telepon bergetar menahan amarah.

“Brengsek kamu, Yudi! Kamu meninggalkan saya dengan korbanmu, hah? Sekarang kamu tidak mau ikut membantu membayar biaya Rumah sakit? Bajingan kamu, Yud!” sembur Tania.

Suara di seberang sana terdengar tenang. “Kamu yang bodoh, kenapa kamu tidak lari dari tempat itu?”

“Di mana rasa kemanusiaanmu? DIMANA?!!” Tania berteriak. Suster-suster yang kebetulan sedang lewat menoleh padanya.

“Sekarang kamu mau apa?” tanya Yudi di seberang sana.

“Jangan temui saya, saya tidak mau polisi tahu bahwa kita ada hubungan,” ujar Tania sambil melihat ke kanan kiri, “Sementara itu saya akan merawatnya sampai sembuh.”

It’s up to you, honey,” kata Yudi dengan tenang. Tania menutup gagang telepon koin itu. Dia terpaku sejenak, kemudian segera beranjak dari sana.>>

Stanza Amnesia – BAB 7: Tania

08/05/2009

BAB 7: Tania

ROMAN BERJALAN SENDIRI menyusuri malam yang dingin. Kedua tangannya dimasukkan ke saku whitejackonya agar tidak kedinginan. Teman-temannya sudah pulang lebih dulu. Albert tidak datang ke distro Pak Hayat sore tadi, mungkin ia terjebak kemacetan. Lagipula transportasi umum itu selalu berjalan dengan lambat. Ada kemungkinan ia memutuskan untuk langsung pulang. Atau mungkin ia terlalu lelah setelah harus bekerja seharian di kantornya, sehingga ia lebih memilih waktu bebasnya untuk beristirahat di rumah.

Roman melangkahkan kakinya dengan cepat di atas trotoar. Ia menyusuri beberapa toko yang sudah gelap di sebelah kanannya. Mobil-mobil yang melintas di jalanan aspal yang setengah basah itu bergerak dalam kecepatan yang wajar, karena hari sudah cukup malam. Desingan-desingan mesin di angkasa terdengar sesekali.

Sebuah neon-box besar bertuliskan ‘Starbig Café’ berada beberapa meter di depan Roman, dan ia sedang menuju ke sana.

Setelah melihat ke kanan dan ke kiri, Roman berlari menyeberangi jalanan setengah basah itu untuk mencapai café tersebut.

Ia menyusuri mobil-mobil dan levymobile-levymobile yang terjajar di pelataran parkir café. Roman meneliti deretan levymobile itu dengan seksama, kalau-kalau levymobile merah tua itu ada di sana. Ada beberapa levymobile berwarna merah tua serupa, tapi sepertinya bukan levymobile yang kemarin.

Akhirnya Roman memutuskan untuk masuk ke dalam café itu. Alunan musik klasik era 90-an terdengar halus dari dalam café. Lagu itu adalah lagu Kenny G, theme from Dying Young.

Ketika ia ingin membuka pintu masuk itu, pintu ganda itu terbuka dari arah dalam, irama musik klasik itu keluar bersama udara dingin yang mengalir dari dalam ruangan ber-AC itu. Dilihatnya Tania yang keluar dari dalam café, Roman sedikit terlonjak.

“Hai, Wirdo!” Tania berseru spontan. Roman sedikit pangling dipanggil dengan nama itu, tapi dia berusaha untuk bersikap wajar. Dia bahkan berusaha menyembunyikan maksud kedatangannya ke sini adalah untuk menemui perempuan ini dengan tetap menunjukkan sikap dingin.

“Hai, Tania! Kamu setiap hari ya ke sini? tanya Roman dalam kepura-puraan yang cukup bisa ia sembunyikan. Tania tersenyum sambil mengangguk kecil.

Tiba-tiba terdengar suara desingan mesin levymobile di belakang Roman. Ia pun secara refleks menoleh ke belakang. Levymobile merah tua itu sedang mendarat pada satu tempat kosong di antara levymobile-levymobile lainnya. Roman terperanjat melihat levymobile itu.

“Itu teman saya datang, saya harus pergi,” kata Tania dengan cepat. Roman terperangah.

Beberapa detik kemudian, pengemudi levymobile merah tua itu turun. Pemuda berjenggot tipis itu melambai pada Tania sambil tersenyum, Tania membalas lambaiannya. Roman masih terpaku di situ. Ketika pemuda itu melihat Roman yang berdiri di samping Tania, matanya langsung terbelalak. “Hei!” pemuda itu berteriak sambil menunjuk Roman.

Tania sedikit terkejut melihat temannya itu menunjuk Roman.

“Kamu mengenalnya, Wirdo?” tanya Tania saat pemuda berjenggot tipis itu berlari ke arah mereka.

“Eng, Mungkin,” sahut Roman pelan dan gugup.

Ketika pemuda berjenggot tipis itu telah tiba di dekat mereka berdua, pemuda berjenggot tipis itu langsung menghantam wajah Roman dengan kepalannya yang melayang. Roman terpelintir menghantam pintu café dan akhirnya terjatuh.

“Hei! Apa-apaan kamu, Yudi?!” teriak Tania histeris.

Saat pemuda itu ingin menghajar Roman lagi yang sudah tersungkur di depan pintu, Tania menahannya. “Hei, apa salahnya?” Tania menjerit.

“Lepaskan saya, Tania! Saya ingin menghajar tukang intip ini!” teriak Yudi sambil menepis tangan Tania yang mencengkeramnya dengan keras.

“Apa maksudmu?” Tania berteriak tertahan.

“Dia mengintip saat kita bercinta kemarin malam!” teriak Yudi di depan wajah Tania. Lalu ia menendang perut Roman dengan ujung sepatunya. Roman meringis sembari terbaring.

“Hey! Stop it, Yudi!” Tania mendorong Yudi ke belakang.

“Baiklah, baiklah,” Yudi mengangkat kedua tangannya. Lalu dia berjalan menuju levymobilenya. “Saya tunggu di dalam levy.”

Tania berjongkok di depan Roman yang sedang terbaring tak berdaya. “Are you okay, Wirdo?” tanyanya cemas.

Roman meringis sambil memegangi hidungnya yang mengeluarkan darah akibat pukulan keras tadi. Matanya yang memicing memandangi pemuda yang sedang berjalan menuju levymobilenya itu. Beberapa saat kemudian Roman telah berusaha berdiri dengan berpegangan pada pegangan pintu ganda di belakangnya. Ia berhasil berdiri dengan sedikit terhuyung. Matanya menatap tajam pada pemuda yang telah menghajarnya tadi.

“Hei, Jagoan!” Roman berseru. Pemuda yang sedang menyalakan rokoknya di dekat levymobilenya itu menoleh ke belakang.

“Masih kuat, huh?” ujar pemuda itu pelan.

“Rasakan ini!” Roman berteriak sambil berlari menuju pemuda itu. Tangannya mengepal kencang.

“Wirdo jangan!” Tania menjerit parau. “Dia gila!”

Roman berlari dengan cepat. Rambutnya yang hitam legam tersibak ke belakang bergesekan dengan angin.

Pemuda berjenggot tipis itu tersenyum dengan tenang saat ia lihat Roman sedang menghampirinya. Ia memasukkan tangan kanannya ke dalam saku kanan whitejackonya. Beberapa detik kemudian ia mengeluarkan sebuah pistol berukuran kecil dari sakunya, dan ia mengacungkannya ke arah Roman yang sedang berlari.

Mata Roman melotot melihat pistol kecil itu telah terarah padanya. Ia menghentikan larinya.

“Yudi jangan!” suara teriakan histeris Tania terdengar di belakang Roman.

Tapi sebelum Roman sempat lagi untuk berkedip. Pistol kecil di tangan pemuda itu telah meletus. Sebuah peluru melesat dari selongsong pistol kecil itu.

“Wirdo!” jeritan parau Tania terdengar lagi.

Roman terhuyung-huyung sebentar. Matanya membelalak besar. Dan akhirnya ia tersungkur di atas aspal.

Pemuda itu meninggalkan Roman di sana dan menuju levymobilenya. Tania berlari menghampiri Roman yang telah dalam keadaan terkulai.

Levymobile merah tua itu melesat dengan cepat meninggalkan pelataran parkir Café Starbig. Suara desingan mesin tersisa di udara.

Tania melutut di atas kepala Roman yang berdarah. “Wirdo, Wirdo!” Tania memanggil-manggil. Wajahnya terlihat begitu pucat pasi. “Kamu tidak apa-apa kan? Wirdo!” Tania mengguncang-guncangkan tubuh Roman beberapa kali.

“TOLONG!!!” suara lengkingan Tania membahana ditemani suara alunan theme from dying young dari dalam café yang mengangkasa.

***

Levyambulance mendarat di depan gedung Rumah sakit umum Centralis. Tak lama kemudian levymobile dengan sirene di atasnya mendarat di samping levyambulance itu. Dua orang berpakaian putih yang keluar dari dalam gedung dengan tergesa lari ke belakang levyambulance. Pintu belakang levyambulance itu terbuka. Dua orang di luar levyambulance itu dengan sigap menarik batang besi tandu itu keluar.

Tania melompat keluar dari levyambulance setelah tandu itu dikeluarkan. Roman yang terbaring di atas tandu yang sedang dibopong itu tak menunjukkan tanda-tanda kesadaran, masker oksigen menutupi mulut dan hidungnya. Orang-orang berpakaian putih itu meletakkan tandu itu ke atas troli. Dan mereka segera mendorong troli itu dengan cepat masuk ke dalam lorong ICU.

Ketika Tania ingin mengikuti mereka masuk ke dalam lorong, polisi berpakaian hitam yang sedang berdiri di samping levymobilenya berseru, “Nona, mungkin ada baiknya kalau anda menyerahkan urusan ini pada pihak rumah sakit,” tegas polisi itu. “Mari saya antar anda ke bagian administrasi.”

***

Tania sedang mengisi formulir di meja resepsionis dengan wajah yang sedikit bingung. Ruangan itu sangat ricuh. Orang-orang berseliweran kesana-kemari, beberapa dokter dengan stetoskop yang tergantung di lehernya berlarian dari satu ruang ke ruang yang lain, suara jeritan-jeritan kesakitan seringkali terdengar, polisi-polisi berpakaian hitam terlihat sedang berbicara dengan para pengantar pasien-pasien, pasien-pasien itu terbaring dan terduduk di atas troli mereka masing-masing. Orang-orang di ruangan itu berbicara satu sama lainnya dalam suara yang riuh rendah, sehingga tak ada suara yang terdengar dengan jelas.

Polisi yang tadi mengantar Tania sedang berdiri di sampingnya. Tania mengisi formulir itu dengan cepat, dan segera menyerahkannya pada perempuan berpakaian putih di belakang meja resepsionis. Kemudian ia menuju salah satu kursi panjang yang berbaris di tengah ruangan itu. Dia duduk di kursi terdepan. Polisi yang mengantarnya tadi mengambil tempat di sampingnya.

“Kami tentunya harus menyelidiki kasus penembakan ini, Nona,” kata Polisi itu sambil memandangi Tania. “Dan Anda adalah satu-satunya saksi yang ada di tempat kejadian.”

“Pak Polisi,” Tania memanggil. Polisi itu menatap Tania dengan tajam. “Anda harus menangkapnya, Pak. Anda harus menangkap orang yang menembak suami saya itu.”

***

Tania berjalan dengan gontai dalam lorong remang. Ia memasukkan tangannya ke saku whitejackonya untuk menahan dinginnya udara malam itu. Suara gonggongan anjing terdengar sesekali. Langkah-langkah sepatunya menimbulkan suara gema. Ia berjalan tanpa menoleh ke belakang. Dan akhirnya ia berhenti di depan sebuah pintu berwarna hijau muda yang sedang tertutup. Lampu bohlam yang berpijar di plafon menerangi pintu hijau muda itu dan semua yang ada di bawahnya dengan seadanya. Tania memencet tombol intercom di samping pintu itu.

“Siapa ini?” suara parau terdengar dari intercom beberapa detik kemudian.

“Tania,” jawab Tania seraya menekan salah satu tombol dan mendekatkan wajahnya ke intercom.

Beberapa saat Tania berdiri di depan pintu itu, hingga akhirnya terdengar langkah seseorang yang menuruni anak tangga. Tak lama kemudian suara kunci yang dibuka terdengar dari arah dalam. Pintu itu terbuka setengah, seorang perempuan setengah baya yang mengenakan daster mengintip dari dalam. Tania tersenyum pada perempuan itu. Perempuan itu membuka pintu lebih lebar, Tania pun masuk.

“Biasanya kamu pulang pagi,” keluh perempuan itu sambil mengunci pintu itu lagi.

“Saya mendapat musibah, Martha,” ujar Tania seraya membuka whitejackonya dan menggantungnya di atas rak sepatu.

“O, o, jangan kamu katakan kamu tidak bisa membayar uang sewa kost lagi bulan ini,” Martha mengeluh.

Tania menghela nafasnya. “Saya khawatir bulan ini harus menunggak lagi, Martha,” ujar Tania sambil menaiki anak tangga di depannya. “Andrew menembak seseorang.”

“Apa hubungannya antara kamu dengan apa yang dilakukan oleh begundal itu?” Martha memekik. Ia masih berdiri di tempatnya semula.

Tania menoleh dan berpegangan pada dinding. “Dia menembak seseorang di depan mata saya, dan dia meninggalkan korbannya itu pada saya,” kata Tania sambil meringis. “Saya hanya tidak mau dianggap ada hubungannya dengan Andrew oleh Polisi.”

“Saya heran kenapa kamu masih mau berhubungan dengan begundal tengik itu,” kata Martha geram. Tania menghela nafasnya yang berat.

“Lalu, apa yang kamu lakukan?” tanya Martha kemudian.

“Saya menyelamatkannya… Saya katakan pada mereka bahwa orang itu adalah suami saya, dan seorang perampok telah menembaknya.”

“Bodoh sekali kamu!” Martha membentak. “Kenapa kamu tidak menyerahkan urusan ini pada keluarga si korban?”

Tania menggeleng sambil mendesah pelan. “Dia tidak punya identitas, Martha,” kata Tania kemudian.

***

“Black Ikarius sudah seperti band pop,” Thomas membentak sambil menggebrak meja kayu panjang di depannya. Jaya yang duduk di seberangnya tersentak. Albert berdiri dari sofanya di depan tivi dan menghampiri meja kayu itu.

“Apa maksudmu dengan band pop?” tanya Albert sambil menghembuskan asap rokoknya.

“Apa gunanya kita selama ini selalu menyembunyikan identitas? Apa gunanya menjadi anonimus dengan tidak membawa kartu identitas saat kita berekspresi?” cecar Thomas.

Jaya memandangi temannya di seberang sambil merengut.

“Black Ikarius, sudah dikenal orang, kalian tahu itu? Dan mereka tahu siapa saja orang-orang yang tergabung di dalamnya,” ujar Thomas. “Tadi siang, di kampus, saya bertemu dengan seorang vandalis. Dia tahu banyak tentang Black Ikarius. Dia kenal Roman dan dia juga kenal nama saya.”

“Ah! Of course they’d know. Vandalis-vandalis itu kan juga sering datang ke distro untuk membeli literatur,” sergah Albert. “Kita juga pernah bertemu beberapa dari mereka saat mereka sedang menitipkan tulisan-tulisan mereka di distro Pak Hayat itu. Kita pernah berkenalan dengan mereka malah, kamu ingat?”

Thomas berkedip-kedip. “Jadi mereka tahu bahwa kita adalah Black Ikarius dari kumpulan karya kita yang kita titipkan di distro itu?” tanya Thomas. “Damn! Dari dulu saya sudah tidak setuju kalau kumpulan karya kita itu diberi tajuk yang sama dengan nama perkumpulan kita ini,” Thomas menggebrak meja dan kemudian menunduk.

“Sama saja, Kak Tom,” Jaya berujar tiba-tiba. Thomas mendongak. “Kita beri tajuk atau tidak, mereka akan tahu saat mereka berbincang dengan kita. Mereka akan tahu bahwa itu adalah karya kita.”

“Apa maksudmu, Jay?” tanya Thomas.

“Guru saya tahu bahwa komik-komik itu adalah buatan saya,” gumam Jaya pelan. “Dia mengetahuinya karena ada kesamaan antara opini-opini saya dengan opini-opini komik. Mereka akan tetap mengetahuinya, Kak.”

Thomas menunduk lagi, wajahnya memerah. “Apa gunanya semua ini?” Thomas bergumam. “Mungkin benar kata mereka, lebih baik jika melakukan aksi yang nyata. Tidak ada bedanya.”

Teman-temannya memandangi Thomas dengan pandangan sedikit sinis.

Tiba-tiba telepon di sudut ruangan itu berdering. Albert beringsut meninggalkan meja itu. “I’ll get it,” Albert berinisiatif.

***

“Apakah dia mati?” tanya Martha sambil berdiri di depan pintu kamarnya.

Tania yang sedang membuka kunci kamarnya menoleh. “Dia selamat,” ujar Tania. Dia membuka pintu kamarnya, “Besok, pagi-pagi sekali, sebelum ke kampus, saya ke Rumah sakit dulu. Ada biaya-biaya administrasi yang harus saya urus.”

“Tania,” Martha berseru. “Tadi surat itu datang lagi, seperti biasanya ia terselip di bawah pintu masuk itu. Tunggu sebentar,” Martha menuju kamarnya di samping kamar Tania.

Beberapa detik Tania berdiri di ambang pintu kamarnya. Tak lama kemudian Martha keluar dari kamarnya dengan amplop berwarna biru di tangannya. “Ini, mungkin isinya uang lagi,” Martha menyerahkan amplop biru itu. “Sudah tahu siapa pengirim surat-surat kaleng ini, Tania?”

Tania menerima amplop itu sambil menggeleng pelan. Lalu ia masuk ke kamarnya dan menutup pintu di belakangnya. Lampu di kamar itu memang tidak pernah dimatikan. Ia membuka sepatunya dan langsung menghempaskan dirinya di ranjang yang berada di tengah kamar. Ia memandangi amplop biru di tangannya. Amplop itu sama seperti yang lain, tidak ada perangko ataupun stempel pos.

Amplop di tangannya itu cukup tebal. Ada sedikit senyum di bibir Tania melihat amplop tebal itu. “Pasti uang lagi,” pikirnya.

Tania menyobek pinggiran amplop biru itu dengan cepat lalu ia menarik semua isinya keluar. Dalam kertas yang terlipat itu, ada sesuatu yang terbungkus kertas karbon. Ia membuka kertas karbon itu. Lembaran-lembaran uang sepuluh ribuan neodollar tersusun rapi di dalamnya. Tania tersenyum tipis.

Lalu ia membaca kertas surat yang terlipat tadi. Ia mulai membaca surat yang diketik itu dalam hati:

Untuk Perempuan yang tak kenal siapa aku,

Aku harap kau dalam keadaan yang baik-baik saja. Centralis hari ini masih sama dengan kemarin bukan? Atau kau tak mau lagi mengingat hari kemarin? Tidak masalah.

Tidak masalah apakah kau masih ingat apa yang kau punya kemarin. Tidak jadi masalah apakah kau masih mengingat apa yang kau lakukan kemarin. After all, kamu masih punya hari ini. Dan kamu masih memegang harapan, yakni hari esok.

Aku juga punya harapan. Semoga suatu hari kita bisa bertemu. Tanpa perlu lagi untuk mengingat-ingat masa lalu kita masing-masing, dan kita akan menghabiskan sisa hidup kita bersama dengan nafas-nafas yang betul-betul baru.

NB. Ini ada sedikit uang untukmu. Jangan sia-siakan hari ini.

Tania melipat kertas itu dengan alis yang berkerut. Lalu ia membuka laci di kepala ranjangnya, dan menyimpan kertas surat itu di atas kertas-kertas surat yang lain. Kemudian ia menyimpan lembaran-lembaran uang itu ke saku celananya. “Menyenangkan juga punya fans gelap,” gumam Tania. >>

Stanza Amnesia – BAB 6: Distro

08/05/2009

BAB 6: Distro

JAYA BERJALAN KELUAR dari sekolahnya yang telah sepi. Langkahnya gontai. Masih terngiang kata-kata gurunya tadi. Oh? Pantas saja kamu tidak naik kelas? Apa yang ada di kepalamu hanya romantisisme murahan semacam ini! Sudahlah! Ikuti saja alurnya, ikuti saja arus, maka kamu tidak akan tersendat-sendat. Suara-suara itu masih terdengar jelas dalam genderang telinganya. Jaya mendenguskan nafasnya.

Setidaknya kamu bisa naik kelas. Suara itu seperti memantul-mantul di genderang telinganya dan semakin mengeras. Ia berjalan sambil memasukkan kedua tangannya ke saku whitejacko lusuhnya.

Matanya nanar, ia seperti mengutuki dirinya sendiri yang tidak naik kelas tahun ini. Ia sebetulnya tidak ingin mengecewakan ayahnya. Ayahnya yang meninggalkannya sendiri di kota ini, sementara ia dipindah tugaskan ke luar kota oleh perusahaan tempatnya bekerja.

Kadang ia merasa sangat membebankan ayahnya. Ayahnya yang telah menjadi single-parent sejak Jaya kecil itu, adalah orang yang sangat penyabar. Saat ayahnya tahu bahwa ia tidak naik kelas ia tidak dimarahi. Dan hingga kini, Jaya masih mendapat kiriman uang bulanan secara rutin, walau ia rasa uang itu sangat minim untuk membiayai keperluan-keperluan lain selain membayar uang sekolahnya.

Sasha, kekasihnya, juga menjadi semacam beban tersendiri baginya. Perempuan yang lari dari rumahnya karena pertengkaran orang tuanya yang berkesinambungan itu, juga membuat Jaya harus menyisihkan uang bulanannya untuk membiayai kebutuhan sehari-harinya seperti makanan dan alat-alat kebersihan. Sasha memang sementara tinggal di rumah kost temannya. Tapi entah sampai kapan? Hal itu juga yang membuat Jaya pusing bila memikirkannya.

Atas pilihannya sendiri, Sasha juga berhenti dari sekolahnya. Dan atas saran Jaya, ia ikut program belajar gratis di sebuah distro. Siang ini Jaya sedang berjalan menuju ke sana untuk menemui kekasihnya itu.

***

Jaya tiba di depan sebuah toko yang menjual buku-buku lama di salah satu sudut kota Centralis ini. Toko yang mereka sebut dengan ‘distro’ itu berada di pinggir jalan raya. Dari luar, toko ini tidak terlihat selayaknya sebuah toko. Tidak ada papan nama besar yang terpampang. Hanya papan kecil, bertulisan : ‘We’re Open’ yang menggantung di kusen pintu kayu itu, yang mengisyaratkan bahwa tempat itu adalah sebuah toko. Dan pintu itu selalu dalam keadaan terbuka pada siang hari seperti ini.

Jaya memasuki pintu itu. Ruangan yang rada gelap membuat matanya harus beradaptasi untuk bisa melihat dengan jelas.

“Hai, Jaya!” seorang pria berumur empat puluhan menyapanya.

“Siang, Pak Hayat,” Jaya membalas sapaan pria yang bernama Pak Hayat itu. Ia pun melangkah lebih dalam melewati lemari-lemari besar di kanan kirinya yang berisi buku-buku tua. Di tengah ruangan ada dua meja kayu dan bangku panjang di sekitarnya yang biasa dipergunakan untuk membaca, layaknya di perpustakaan. Pak Hayat terlihat sedang membersihkan buku dalam lemari-lemari itu dengan kemocengnya. Debu-debu tipis bertebaran ke udara.

Suara orang yang sedang mengajar terdengar samar-samar dari ruangan sebelah.

“Kamu pasti mencari Sasha, bukan?” tanya Pak Hayat tiba-tiba. Jaya hanya menjawabnya dengan tersenyum. “Dia sudah di dalam. Anakku sedang mengajarnya,” ujar Pak Hayat sembari menunjuk ke pintu di sudut ruangan itu.

“Saya boleh masuk kan, Pak?” tanya Jaya kemudian. Pak Hayat mengangguk sambil tersenyum.

Jaya pun segera menuju pintu di sudut ruangan itu, tapi ketika hendak masuk ia berpapasan dengan seorang perempuan berkaca mata, istri Pak Hayat.

“Ayo! Kamu mau ke mana?” kata perempuan itu setengah bercanda.

“Oh, Ibu Mirah. Saya mau ikut pelajaran, Bu,” kata Jaya sambil menunjuk ke dalam.

“Pelajaran di sekolahmu masih kurang cukupkah?” Ibu Mirah berkelakar. Lalu dengan bola matanya dia mengisyaratkan Jaya untuk masuk. Jaya pun masuk melalui pintu itu.

Ibu Mirah menghampiri suaminya yang sedang membersihkan buku-buku di lemari itu sambil tersenyum. Suaminya sedikit heran melihat tingkah istrinya itu.

“Kenapa kamu senyum-senyum seperti itu, sayang?” tanya suaminya sambil membersihkan debu pada permukaan buku yang sedang dipegangnya.

Perempuan itu masih tersenyum. “Lihatlah anak kita. Aku bangga melihatnya bisa menjadi seorang pendidik,” kata Ibu Mirah.

“Dia adalah hasil didikanmu,” Pak Hayat memuji istrinya.

“Dia lebih membanggakan daripada anak kandungku sendiri,” ujar Ibu Mirah lirih.

Suaminya meliriknya dan kemudian memegang bahunya. “Itu bukan salah kamu, sayang,” Suaminya menghibur sambil mengusap bahunya. “Setidaknya kita masih berusaha. Kita masih berusaha.”

“Tapi aku juga tidak setuju jikalau ini harus dikatakan sebagai kesalahannya. Karena memang bisa jadi ini adalah salahku. Salah karena menaruh harapan yang berlebihan padanya.”

Di dalam ruangan sebelah yang cukup luas, Jaya sedang duduk di belakang orang-orang yang sedang mendengarkan omongan Pak Adit di depan. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding.

“Belajar berbicara dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar memang penting. Tapi pada jaman sekarang, kita tidak tahu kepada siapa kita harus berbicara,” ujar Pak Adit dengan nada yang lucu. Suara tawa di ruangan itu membahana.

Orang-orang di ruangan yang sedang mengikuti pelajaran, terdiri dari berbagai usia. Mulai dari anak-anak kecil sampai pada remaja seusia Sasha. Dan Jaya melihat Sasha sedang duduk di tengah-tengah mereka. Dari sudut ruangan itu, Jaya hanya bisa melihat rambut pirangnya yang pendek dari belakang di antara kepala-kepala yang lain, tapi ia bisa mengenalinya bahwa itu adalah Sasha. Di barisan terdepan, Jaya melihat anak-anak jalanan sedang mendengarkan Pak Adit berbicara dengan seksama. Mereka adalah para tukang koran yang menyempatkan diri untuk belajar di sini, sebelum mereka harus berjualan malam nanti.

“Kenapa, Pak?” salah satu anak kecil di barisan depan bertanya.

“Budaya, Nak. Percampuran budaya telah terjadi semenjak puluhan tahun yang lalu. Lihatlah sekeliling kita,” Pak Adit mengangkat kedua tangannya ke udara, orang-orang di ruangan itu saling melihat satu sama lain, dan ia kemudian melanjutkan, “Ada yang berambut pirang, berambut hitam, berkulit putih, berkulit hitam, dan ada yang di tengah-tengahnya,” ujar Pak Adit. Mereka semua tertawa lagi. Jaya masih memperhatikan kekasihnya dari belakang.

“Globalisasi telah membawa kita semua berkumpul di sini. Hebatnya, kita semua sudah melupakan apa itu bangsa, karena secara perlahan kita semua telah melebur, dan bahasa kita juga perlahan melebur,” ujar Pak Adit lagi.

Jaya tersenyum mendengar penjelasan Pak Adit.

But it doesn’t matter,” kata Pak Adit, “Karena walaupun begitu, kita masih berkomunikasi. Dengan senyuman yang tulus dan juga cinta yang tulus. Dan persetan dengan standard global, kita punya cinta yang global.”

Pak Hayat dan Ibu Mirah memperhatikan anak mereka dari pintu sambil tersenyum bangga.

***

Hari sudah mulai menggelap, para penjual koran itu meninggalkan toko untuk segera melaksanakan pekerjaan malam mereka. Pak Adit melepas kepergian mereka di ambang pintu keluar. Beberapa remaja masih berada di ruangan yang dipenuhi buku tua. Beberapa dari mereka terlihat duduk di sekeliling meja kayu di tengah ruangan itu sambil membaca.

Jaya dan Sasha masih berada di ruang diskusi tadi. Mereka sedang berdiskusi dengan Pak Hayat dan Ibu Mirah. Biasanya mereka mulai berdiskusi setelah Roman, Thomas dan Albert datang. Tapi sore ini mereka memulainya lebih awal.

“Dulu, aku juga seperti kalian,” kata Pak Hayat, “Begitu menggebu-gebu untuk mewujudkan mimpiku.”

“Apakah mimpi anda itu, Pak?” tanya Jaya. Sasha yang duduk di sampingnya sejak tadi hanya mendengarkan.

“Mimpiku?” tanya Pak Hayat sambil tertawa. “Mimpiku adalah mimpi utopis. Seperti dalam lagu imagine-nya John Lennon,” ujar Pak Hayat seraya tertawa renyah.

“O iya. Saya tahu itu. Roman juga sering menceritakannya. The world will live as one,” kata Jaya. Pak Hayat mengangguk-angguk. Ibu Mirah di sampingnya tersenyum.

“Apakah memang sesulit itukah menciptakan dunia yang satu?” tanya Jaya lagi.

“Tidak sulit. Kalau kita semua betul-betul mengerti apa itu cinta,” kata Pak Hayat, kemudian dia melirik istrinya. “Dan akhirnya aku menemukan perempuan ini. Kami mewujudkan mimpi kami bersama-sama,” Pak Hayat memandangi istrinya. Ibu Mirah tersenyum, pipinya merona.

“Dan jadilah toko atau distro ini, tempat kami menghidupi impian kami bersama,” Pak Hayat memandangi sekeliling ruangan itu. Lalu ia berdiri, “Permisi sebentar,” ujarnya kemudian seraya keluar menuju ruang bacaan di samping.

“Ayah kamu berasal dari mana, Sasha?” tanya Ibu Mirah pada Sasha mengisi kekosongan.

“Kanada,” jawab Sasha singkat.

“O, dari dialah kamu mendapatkan rambut pirangmu, ya?” tanya Ibu Mirah sambil tertawa. Sasha hanya tersenyum.

“Yah, sebetulnya aku bahagia melihat sekelilingku sekarang,” ujar Ibu Mirah sambil matanya menerawang, “Semua perbauran ini, sebetulnya sudah nyaris menuju kepada dunia yang satu. Tapi sejak dulu, kita masih belum bisa memahami cinta yang satu itu. Sehingga hanya kebencian yang ada di sekitar kita.”

Sasha tersenyum miris dan kemudian berbicara, “Yah, karena itulah ayah dan ibu saya terus bertengkar,” ujar Sasha lirih. Ibu Mirah terlihat menyesali perkataannya barusan.

O, I’m sorry, Sasha. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyinggung,” kata Ibu Mirah sambil meraih tangan Sasha.

No, it’s okay, Bu!” ujar Sasha. “Mungkin ini bisa sedikit membuatku lega.”

“Oke, kalau begitu ceritakanlah apa yang ingin kau ceritakan,” ujar Ibu Mirah lembut.

Sasha menunduk, Jaya memegang bahunya.

“Saya tidak mengerti,” sambil menunduk Sasha memulai, “Mereka sepertinya tidak pernah bisa akur,” suara Sasha mulai terdengar parau.

Ibu Mirah menelan ludahnya sambil memperbaiki letak kaca matanya. Dia menanti kata-kata Sasha selanjutnya. Cukup lama mereka larut dalam suasana yang hening.

Akhirnya Ibu Mirah memutuskan untuk memecahkan keheningan itu. “Karena itulah, di sini kita selalu menekankan komunikasi dengan senyuman yang tulus untuk cinta yang tulus,” kata Ibu Mirah dengan suara rendah. “Kalian tahu apa maksudnya?” tanyanya.

Jaya dan Sasha mengangguk dengan ragu. Ibu Mirah tersenyum tipis.

“Maksudnya, komunikasi dengan senyum yang tulus itu berarti komunikasi yang betul-betul kita butuhkan. Bukan karena formalitas, bukan karena ada ada maksud lain, tapi karena kita mencari kenyamanan dalam komunikasi itu. Dari situlah kita bisa tahu apakah orang yang kita ajak berkomunikasi itu bisa kita berikan dan memberikan cinta yang tulus atau tidak,” jelas Ibu Mirah. “Karena kita adalah manusia yang butuh tempat untuk bercermin, Nak.”

Tak lama kemudian Pak Hayat datang sambil membawa beberapa lembar kertas di tangannya. “Coba kalian lihat ini,” kata Pak Hayat sambil menyodorkan kertas-kertas itu pada Jaya. Jaya mengambilnya dan menelitinya sebentar.

“Puisi?” tanya Jaya kemudian.

“Ya! Dulu aku juga seperti kalian. Aku dan istriku ini adalah orang-orang yang bandel,” Pak Hayat melirik istrinya. Ibu Mirah mendelik sambil tersenyum pada suaminya.

“Maksudnya?” tanya Jaya.

“Puisi-puisi itu dulu kami tempelkan di gedung-gedung perkantoran dan di gedung-gedung Mal,” kata Pak Hayat sambil matanya tertuju pada kertas-kertas di tangan Jaya.

“Seperti yang dilakukan Roman?” tanya Jaya. “Efektif kah? Maksudku, apakah mereka mengerti?”

“Aku juga dulu selalu bertanya pada diriku sendiri, apakah mereka akan mengerti semua yang aku mengerti ini? Cobalah kamu baca satu puisi itu,” ujar Pak Hayat kemudian.

“Hah? Saya?” tanya Jaya ragu. “Saya tidak sehebat Roman dalam membaca puisi, Pak.”

“Ah! Ayolah! Tidak perlu keahlian khusus dalam membaca puisi. Cuma ada dua pilihan, kamu memahaminya dalam hati lalu kamu membacanya dengan keras kapan pun kamu mau, atau kamu membacanya dengan keras lalu kamu memahaminya kapan pun kamu mau. Mudah bukan?” kata Pak Hayat sambil duduk kembali.

“Baiklah, baiklah,” Jaya mengalah. Jaya pun mulai membaca puisi di atas lembar kertas itu:

“Oh peradaban yang tak seharusnya…

Dengan keindahan bintang di langit yang selalu ada

Dan kelopak-kelopak bunga yang kian kunanti mekarnya…

Tapi kenapa?

Perang ini pun tak kunjung reda

Tangan-tangan kita terlalu sibuk untuk mengangkat bendera…

Apa yang kita pertahankan?

Itulah yang membuat kita tertahan.

Berputar-putar dalam lingkaran

Apa pun itu, yang jelas tak lebih baik dari yang hati nurani kita semua cari

‘Kita semua’ sekali lagi.

Perang ini tak akan pernah  kunjung reda

Karena perang yang kalian maksud  tak pernah ada

Perang kita tak butuh bendera

Perang terhebat kita adalah… ada di dalam diri

Dan itulah… Perang terakhir.”

Pak Hayat tersenyum mendengar Jaya telah membacakan puisinya. Jaya masih memandangi kertas yang ia pegang. “Apa maksud dari peradaban yang tak seharusnya, Pak?” tanya Jaya kemudian.

Pak Hayat tersenyum puas. “Kesia-siaan,” ujarnya kemudian. “Peradaban seperti sebuah spiral. Dan kita berjalan di atasnya. Generasi demi generasi berputar-putar di atasnya. Dalam satu putaran generasi, kita telah berada satu tingkat lebih tinggi dari generasi sebelum kita. Tapi kita hanya berputar dalam satu radius lingkaran. Itu berarti apa? Permasalahan yang kita temui sejak dulu sampai sekarang tetap sama saja.

“Peradaban adalah sebuah istana yang berdiri di atas bukit tengkorak manusia. Tengkorak manusia, Nak. Kamu dengar itu? Apa yang kita injak di bawah kaki kita sekarang adalah tulang belulang manusia yang berteriak-teriak mengharapkan sesuatu. Kamu tahu apa yang mereka harapkan? Mereka berharap setidaknya kita semua mau mengerti keadaan ini. Mereka juga dulu seperti kita, menggebu-gebu untuk menciptakan dunia yang satu. Tapi waktu lebih dulu merenggut mereka, Nak. Kita yang hadir dan masih ada di sini sekarang, seharusnya bisa mewujudkan harapan mereka dulu. Jika tidak begitu, maka kita hanya akan menjadi tulang belulang yang berteriak juga. Dan kita akan semakin mempertinggi bukit ini. Kita juga akan diinjak-injak oleh generasi setelah kita.”

Jaya terperangah mendengar kata-kata Pak Hayat barusan.

Tak lama kemudian Roman dan Thomas muncul di pintu ruang diskusi itu. Pak Hayat segera menyuruh mereka masuk dan bergabung.

“Wah, sedang apa nih?” tanya Roman sambil berjalan ke tengah ruangan itu.

“Pak Hayat sedang bernostalgia,” ledek istrinya.

“O, inikah puisi-puisi yang pernah anda ceritakan itu, Pak?” Roman berseru keriangan saat melihat lembaran-lembaran kertas di tangan Jaya. Pak Hayat mengangguk. Roman berjongkok di samping Jaya, mengambil beberapa lembar kertas dari tangan Jaya. Dan tanpa tedeng aling-aling ia langsung membaca satu puisi;

“Terkutuklah aku yang sendiri.

Hidup karena semua nafas utopis. Apa arti?

Sendiri adalah tak berarti.

Terkutuklah mereka yang berpesta.

Hidup dalam cahaya, ada gelap di samping mereka.

Bahagia karena sengaja menjadi buta.

Mata terbuka, mata tertutup.

Apakah ada beda.

Semua menjadi terkutuk.

Di atas neraka yang kian terasa.”

“Wow!” seru Roman setelah selesai membaca. “Mata terbuka, mata tertutup? Apa maksudnya?” tanyanya kemudian.

“Bait pertama dan bait kedua,” sahut Pak Hayat.

“Apa?” tanya Roman lagi.

“Ya,” seru Pak Hayat, “Terkutuklah aku yang sendiri. Apakah kalian pernah merasa sendirian di dunia ini? Jika tidak berarti kalian ada di dalam bait kedua. Kalian sedang berpesta.”

Roman mengangguk-angguk seolah telah mengerti.

“Tapi apakah itu adil, Pak?” Thomas yang duduk melantai di samping Pak Hayat bertanya.

“Apa? Mengklaim orang lain sebagai orang yang tertutup matanya?” tanya Pak Hayat. Thomas memanggutkan kepala.

“Lakukan saja apa yang kalian anggap benar, Nak. Selama itu tidak merugikan orang lain,” kata Pak Hayat.

“Lalu bagaimana dengan vandalis-vandalis seperti Mayhem, Evorevo, atau Child of Nihil? Mereka menganggap telah melakukan hal yang benar. Mereka ingin membuka mata orang lain untuk melihat bahwa dunia ini tidak dalam keadaan yang baik-baik saja. Tapi cara mereka justru membuat orang lain melihat bahwa tindakan mereka itu tidak benar,” tanya Thomas lagi.

“Bukankah tadi sudah kubilang, selama tidak merugikan orang lain?” tanya Pak Hayat.

“Tapi dunia ini sepertinya sudah tuli dan buta, Pak. Sehingga cara kami ini sepertinya tidak akan pernah berhasil,” Thomas sedikit mengerang. Roman dan Jaya memandanginya dengan pandangan bertanya-tanya.

“Pesimis?” Pak Hayat tersenyum dengan senyum yang memancarkan kelelahan akan hidup. Thomas menunduk.

“Kenapa dengan kamu, Tom? Sejak kita berangkat tadi kamu juga lebih banyak murung?” tanya Roman pelan.

“Ah, nothing,” ujar Thomas lemah.

Pak Hayat mengambil beberapa lembar kertas dari tangan Jaya. Jaya yang sejak tadi hanya diam sedikit tersentak saat kertas ditangannya ditarik. Pak Hayat memilah-milah sebentar dan mulai membaca:

“Menarilah wahai bunga matahari, agar bisa kurasakan dadaku berdentum.

Lupakanlah siapa dirimu, agar bisa aku lupakan siapa diriku.

Dan matahari esok akan menjadi lebih hangat dari hari ini.”


Pak Hayat melipat kertas itu dan memberikannya pada istrinya. Ibu Mirah menerimanya. “Puisi ini khusus untuk istriku tercinta. Dialah penghapus kepesimisanku.”>>

Stanza Amnesia – BAB 5: Black Ikarius

07/05/2009

BAB 5: Black Ikarius

PAPAN TULIS BERWARNA HIJAU di muka kelas itu ditulisi sebuah kata dengan huruf yang besar-besar : ‘TERORIS’. Suara tepuk tangan membahana di kelas itu. Seorang murid perempuan kembali ke tempat duduknya sambil tersenyum lega. Guru Bahasa Indonesia muda berkaca mata itu melihat muridnya tadi dengan tatapan bangga.

“Jaya! Silakan maju ke depan,” Jeremi, guru muda berkaca mata itu, menyuruh Jaya yang duduk di bangku belakang untuk maju ke depan. Ini gilirannya.

Jaya pun berdiri dari tempat duduknya. Ia melangkah pelan melewati deretan kursi dan meja. Setibanya ia di muka kelas, ia berdiri dengan rileks.

“Baik, Jaya,” seru Jeremi berkata dalam nada tegas, “Apa opini kamu tentang terorisme yang sangat marak terjadi sekarang?”

Jaya merarik nafasnya sebentar dan kemudian mulai berbicara. “Terorisme adalah aksi gangguan yang bertujuan untuk menuntut suatu hal dari suatu pihak tertentu,” ujar Jaya. Ia berhenti.

Jeremi memicingkan matanya. “Lalu?” tanya gurunya.

“Pada dasarnya terorisme menjadi sebuah ukuran apakah sebuah negara berjalan dengan baik atau tidak,” Jaya menjelaskan. “Jika itu terjadi dalam sebuah negara, berarti negara itu tidak memuaskan rakyatnya. Tapi terorisme sekarang tidak hanya terjadi dalam satu negara saja, melainkan sudah mendunia. Jadi bisa disimpulkan, bahwasanya dunia ini tidak bisa memuaskan manusia-manusia di dalamnya. Makanya mereka menuntut sesuatu,” tandas Jaya.

“Apa yang mereka tuntut?” tanya gurunya lagi.

“Keadilan, Pak,” jawab Jaya singkat.

Teman-teman sekelasnya yang sedang mendengarkan dengan seksama, terkaget-kaget mendengar opini Jaya yang tidak sama dengan opini teman-temannya yang lain. Jikalau teman-temannya sebelumnya hanya mengatakan, bahwa terorisme adalah sebuah tindakan yang tidak bisa dianggap sebagai suatu hal yang terpuji dilihat dari sudut pandang manapun, Jaya membuat teman-temannya terbelalak dengan opininya yang terdengar tidak lazim itu.

“Semalam…,” kata Jeremi tiba-tiba pada kelas, “Semalam saya membeli koran, Centralis Post, di situ saya melihat gambaran sadis dari ulah kelompok vandalis bernama Mayhem.”

Jaya yang masih berdiri di depan kelas terlihat mulai gelisah. Ia merasa tidak dipedulikan di sana sementara gurunya berbicara dengan kelas.

“Dan teman kalian yang satu ini, mengatakan bahwa kesadisan itu adalah sebuah bentuk tuntutan keadilan,” ujar Jeremi sambil menunjuk Jaya. Jaya terlonjak sedikit mendengar satu nada intimidasi dari gurunya barusan.

Jeremi mendekat pada Jaya, matanya seperti sedang menyelidiki sesuatu yang ada pada diri Jaya.

“Apakah ada kaitannya antara vandalis dengan murid sekolah ini?” bisik Jeremi di depan wajah Jaya. Alis Jaya mengernyit.

***

Pada saat yang sama, Thomas sedang terduduk sendiri di kampusnya. Biasanya ia selalu terlihat bersama dengan Roman, tapi tidak pada siang ini. Pagi tadi Roman mengatakan bahwa ia sedang kurang sehat, maka hari ini Thomas berangkat ke kampus mereka itu sendirian.

Ia sedang duduk di tangga depan gedung utama. Tubuhnya disandarkan pada pilar besar bergaya imperial. Orang-orang berseliweran di depan dan belakangnya, sesekali terdengar tawa mereka yang berderai-derai. Suasana kampus ini selalu ramai setiap harinya, dipenuhi oleh para mahasiswa yang berharap untuk bisa mendapatkan ilmu pengetahuan di tempat ini. Sekalipun begitu, kampus adalah salah satu tempat yang terlindung dari suara desingan mesin levymobile. Ada peraturan lalu-lintas udara yang melarang levymobile untuk tidak melintasi lingkungan kampus dan juga sekolah-sekolah.

Di bawah whitejackonya yang compang-camping, Thomas terlihat sebagai seorang yang paling kumal jika dibandingkan dengan mahasiswa lain di sana yang mengenakan whitejacko terbaru. Di bawah plafon gedung utama ini, Thomas terlindung dari radiasi sinar matahari, maka ia merasa tidak perlu mengenakan topi whitejackonya. Ia sedang menanti jam kuliah selanjutnya sambil menggambar sesuatu di atas kertas A4 yang ia pangku.

Sekonyong-konyong, dari sudut kiri matanya ia merasakan ada seseorang yang sedang berjalan menghampirinya, serta merta ia menoleh.

Seorang pemuda jangkung yang kira-kira sebaya dengannya sedang berjalan ke arahnya sambil menyelipkan kedua tangannya ke kantong whitejacko yang tidak kalah dekil dengan kepunyaannya. Di bawah topi whitejacko yang ia kenakan, mata pemuda itu menyipit karena menahan silaunya cahaya matahari yang menyorot. Pemuda itu tersenyum pada Thomas, dan kemudian duduk di sebelahnya.

“Kamu Thomas, bukan?” Pemuda itu mengulurkan tangannya ke depan Thomas. Thomas sedikit kikuk, ia tidak mengenalnya.

Thomas menjabat uluran tangan itu. “Iya, betul,” sahut Thomas ragu.

My name is Andrew,” ujar pemuda itu lagi seraya tersenyum. Lalu pemuda bernama Andrew itu membuka topi whitejackonya, sehingga rambut pendeknya yang pirang keemasan terlihat.

“Hari ini panas sekali bukan?” ujar Andrew seraya matanya menerawang ke angkasa. Thomas hanya mengangguk sambil mengikutinya memandang langit.

“Roman tidak datang hari ini?” Andrew bertanya lagi. Mata Thomas langsung berputar cepat ke arah orang di sampingnya ini.

Andrew tersenyum. “Kenapa? Kamu heran kenapa saya bisa kenal dengan Roman?” tanya Andrew sambil tertawa renyah. Thomas tidak menjawab, ia menggerak-gerakkan bibirnya.

“Roman dulu satu sekolah dengan saya. Seangkatan,” kata Andrew kemudian.

Thomas mengangkat dagunya sedikit dan memandang Andrew dari ekor matanya. Andrew tersenyum tipis.

“Tapi sepertinya dia tidak mengenal saya,” ujar Andrew kemudian.

Why?” tanya Thomas.

Andrew tersenyum lagi. “Roman adalah anak yang kurang bergaul,” kata Andrew.

“Yeah. I know that,” Thomas berkelakar.

“Bagaimana perkembangannya?” tanya Andrew lagi.

“Perkembangan apa?” tanya Thomas heran.

Andrew menyeringai. “Black Ikarius,” sahut Andrew. Thomas tercengang.

***

Gedung majorcorps lantai dua puluh sangat ramai seperti biasanya. Pegawai-pegawai berdasi terduduk di depan komputernya di dalam sekat-sekatnya masing-masing. Suara dering telepon terdengar beberapa detik sekali. Beberapa petugas yang mengenakan seragam berwarna abu-abu melintasi lorong-lorong antara sekat-sekat itu. Tangan mereka mengangkat tumpukan arsip yang akan diserahkan kepada pegawai-pegawai di dalam sekat-sekat itu.

Albert terlihat sedang membaca sebuah nama yang tertera pada arsip yang berada paling atas di tumpukan yang ia bawa sambil berjalan. Lalu ia menuju ke salah satu sekat di sudut ruangan besar itu.

Here you go, Mr. Peter,” ujar Albert sambil menyerahkan arsip-arsip itu pada pegawai yang sedang terpaku pada layar monitornya.

Mr. Peter menoleh mendengar namanya dipanggil. “Oh, thank you, Robert,” ujar pria berdasi itu sambil mengambil tumpukan arsip itu dari tangan Albert.

Albert tersenyum tipis. “You’re welcome, sir,” Albert meninggalkan sekat itu sambil menggerutu, “And my name is Albert,” sungutnya sembari berjalan.

Albert melihat jam di dinding ruangan itu. “Jam satu. It’s break time,” ujar Albert pelan. Lalu ia menuju ke pintu darurat di pojok ruangan. Ia dorong pintu hidrolik berwarna abu-abu itu.

Albert pun duduk di tangga. Ia memutar leher untuk meregangkan ototnya sedikit. Tangannya mengambil sebungkus rokok dan korek gas pada saku kanan celananya, dan ia menyalakan sebatang. Matanya berkedip-kedip saat asap rokok itu berjelaga.

Tiba-tiba pintu hidrolik di depannya itu terbuka. Dan muncullah seorang pria setengah baya bertubuh gemuk yang tersenyum padanya. “Halo, Albert!” pria gemuk berseragam abu-abu itu menyapa, dan langsung duduk di samping Albert.

“Halo, Pak Jon,” sapa Albert.

“Hei! Sudah berapa kali aku bilang, jangan panggil aku dengan sebutan Pak,” Jon gemuk itu menghardik pelan. “Aku hanya tidak mau terlihat tua.”

“Oke, sorry, Jon,” ujar Albert sambil tersenyum.

“Nah, begitu lebih baik,” Jon tertawa. Albert menghisap rokoknya sambil tersenyum.

“Aku dengar area penyimpanan bis jemputan meledak semalam, betul itu?” Jon bertanya.

“Ya, karena itulah pagi tadi saya terlambat,” ujar Albert.

“Aku lewat jalan itu semalam,” sahut Jon dengan antusias.

“Oya?” tanya Albert tak kalah antusiasnya.

“Ya, aku baru saja pulang setelah menjemput istriku dari rumah sakit,” ujar Jon lagi.

Albert terlihat mencoba mengingat-ingat sesuatu, matanya berkedip-kedip, “Oiya,… Marry,” katanya kemudian.

“Yeah… perempuan yang selalu mengeluh,” gerutu Jon.

“Hey! She’s your wife,” kata Albert sambil tertawa. Jon pun tertawa.

“Dia selalu menginginkan levymobile,” mata Jon menerawang. “Dia betul-betul ngeyel kamu tahu itu?” keluh Jon dengan suara tertahan. Albert tertawa tanpa suara.

I love my car. Mobil tua itu sudah ku anggap seperti anakku sendiri,” mata Jon menerawang lagi. “Lagipula, berapa besar sih gaji pengantar arsip dan perawat rumah sakit?” ujar Jon lirih. Albert merunduk sambil menghisap rokoknya.

Jon menggeleng-gelengkan kepala seperti menyesali sesuatu. “Kamu tahu pendidikan terakhirku?” tanya Jon tiba-tiba. Albert mengangguk, ia telah sering mendengar keluhan pria gemuk yang satu ini.

“S2, Albert! S2!” kata Jon dengan suara seperti tercekik. Albert mengedip-ngedipkan matanya lagi.

“Sembilan tahun bekerja di sini, terus menerus aku jadi pengantar arsip,” ujar Jon dengan nafas yang berat. “Standard global sialan!” Jon memaki.

“Kau yang memilih datang ke kota ini, Jon,” kata Albert.

“Di negara manapun akan sama saja. Standard global!” keluh Jon lagi.

Albert memanggut-manggutkan kepalanya. Jon menghela nafasnya, seperti sedang membuang semua beban yang ada di dalam dadanya.

Hey give me that!” seru Jon tiba-tiba.

What?” Albert terkejut.

Give me that cigar!

***

Roman sedang berada di pekarangan kecil belakang rumah kost itu. Telapak tangannya berlumuran tanah, begitupula dengan pergelangan tangan whitejackonya. Ia sedang mencabuti singkong dari tanah. Suara-suara desingan mesin levymobile sesekali terdengar di atasnya. Ia mengenakan topi whitejackonya agar kepalanya tidak terkena sinar matahari langsung.

“Hubungi Polisi! Ada seseorang yang melakukan tindakan ilegal di sini!” sebuah teriakan terdengar dari belakangnya. Roman menoleh, ia lihat Pak Adit, pemilik rumah kost berusia tiga puluhan, sedang berdiri di ambang pintu belakang sambil tersenyum.

“Halo, Pak Adit!” sapa Roman seraya menghampiri Pak Adit sambil menenteng singkong yang baru dicabutnya.

Pak Adit tertawa. “Halo manusia ilegal!”

Roman mengangkat singkong ke depan wajahnya. “Yah, setidaknya saya tidak harus membeli makanan untuk makan siang,” ujarnya sambil tersenyum. Pak Adit mengangguk-angguk sambil menyeringai.

“Kamu tidak kuliah?” tanya Pak Adit sambil masuk ke dalam rumah, Roman mengikutinya dari belakang.

“Hari ini saya sedang tidak mood,” ujar Roman muram.

“Thomas kuliah?” tanyanya lagi sambil menoleh pada Roman yang baru saja melewatinya untuk menuju ke dapur. Roman mengangguk sambil memasuki pintu dapur.

“Baiklah, aku ke distro dulu, ya! Anak-anak pasti sudah menunggu di sana,” kata Pak Adit sambil melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

“Nanti malam saya ke sana, Pak,” seru Roman. Pak Adit tersenyum sambil mengangkat alisnya. Lalu ia meninggalkan Roman sendiri di rumah itu.

Jaya sedang duduk di bangku paling depan di kelasnya. Jeremi, guru Bahasa Indonesianya, berdiri di depannya. Kelas sudah kosong, karena saat itu memang sudah pukul setengah dua siang, itu berarti jam pulang sekolah sudah lewat semenjak setengah jam yang lalu.

“Kamu pikir saya tidak tahu komik-komik ini adalah buatanmu?” Jeremi menghardik. Tangannya memegang lembaran-lembaran foto copy-an komik-komik buatan Jaya. Jaya hanya menunduk dengan wajah yang merengut.

“Cinta adalah revolusi, lawan status-quo dengan cinta, cinta versus alienasi, dan semua judul yang provokatif ini,” Jeremi membentak sambil mengacungkan kertas-kertas foto copy-an itu ke depan wajah Jaya. “Apa misimu? Hah, Teroris kecil?” tekan Jeremi sambil membungkukkan badan.

Jaya tak berkata apa-apa.

“Jawab!” bentak Jeremi lagi.

“Membuat semua orang jatuh cinta, Pak,” ujar Jaya pelan tapi tegas.

“Oh? Pantas saja kamu tidak naik kelas? Apa yang ada di kepalamu hanya romantisisme murahan semacam ini!” hardik Jeremi. Jaya memejamkan matanya, ia sebetulnya tidak bisa menerima gurunya menyebut komik-komiknya itu sebagai romantisisme murahan, tapi ia tidak ingin membantah.

“Saya tahu,” seru Jeremi tiba-tiba, “Kau hanya berusaha untuk menjadi beda, iya kan? Karena itulah kamu selalu membuat opini-opini yang berbeda tentang fenomena-fenomena apapun yang terjadi.”

Jaya menunduk lebih dalam.

“Sudahlah! Ikuti saja alurnya, ikuti saja arus, maka kamu tidak akan tersendat-sendat,” kata Jeremi dengan nada seperti menasehati. “Setidaknya kamu bisa naik kelas. Dan tidak mempengaruhi teman-temanmu yang lain.”

Jaya menghela nafasnya.

“Kamu tahu?” tanya Jeremi kemudian.

Jaya mendongakkan kepalanya agar ia bisa melihat wajah gurunya itu.

“Semalam saya melihat seorang pencuri keluar dari mini market,” ujar Jeremi.

Jaya tersentak, tapi dia bisa menyembunyikannya.

“Orang itu sekilas mirip dengan kamu. Dan karena semua terjadi begitu cepat; saya tidak bisa memastikan apakah itu adalah kamu atau bukan,” kata Jeremi.

Jaya menunduk lagi.

“Yang jelas,” Jeremi membungkukkan tubuhnya sehingga wajahnya berada di depan wajah Jaya. “Kalau sampai ada anak didik saya melakukan hal-hal vandal semacam itu… Tidak ada ampun,” ancam Jeremi.

***

“Kamu terjebak dalam Black Ikarius, Thomas,” ujar Andrew. Thomas hanya diam sejak tadi. Sementara orang berambut pirang keemasan di sampingnya ini terus berbicara.

“Roman adalah seorang utopis, dan kalian semua dibawa masuk ke dalam dunianya,” kata Andrew. “Mimpi-mimpi kalian tidak akan pernah jadi nyata lewat karya-karya seni kalian itu.”

Thomas masih memendam amarahnya. Matanya mulai memerah.

“Kalian harus melakukan aksi yang nyata,” ujar Andrew lagi.

Tiba-tiba Thomas berdiri. Andrew sedikit terkejut.

“Dengar ya, misionaris!” tegas Thomas seraya menunjuk wajah Andrew. “Saya tidak tertarik dengan cara-cara vandalis seperti itu. Dan siapapun kamu, dari manapun kamu, mayhem, evorevo, child of nihil kah… saya tidak akan ikut dalam pergerakan kalian. Permisi,” Thomas mengenakan topi whitejackonya dan segera meninggalkan gedung utama kampus itu. Tangannya menenteng kertas-kertas yang tadi sedang ia gambari.

“Terserah padamu, Kamerad!” Andrew berteriak pada Thomas yang sedang menjauh.>>

Novel “Damai” – BAB 1

07/05/2009

BAB 1

Bandung, 2 September 2004

19.58 WIB

RIF LAGU VINA PANDUWINATA yang legendaris itu masih terngiang terus di dalam benakku. Penyebab utamanya jelas. Perusahaan Televisi Swasta yang baru tiga tahun berdiri itu menggunakan ‘September Ceria’ sebagai theme-song program acara mereka selama bulan ini. Nadanya memang sederhana sehingga siapapun mudah untuk menghapalnya. Selain itu iklan, dengan metode repetisinya, memang selalu berhasil memberi efek hipnotis kepada siapa saja yang melihat atau mendengarnya. Tapi yang paling berperan dalam membuat lagu itu masih tetap bertahan di dalam kepala, walau kini aku sudah berada di Jalan Aceh yang jauh dari televisi ini, sepertinya adalah efek hipnotis lain yang kudapatkan melalui SMS semalam;

Bulan ini saya berulangtahun. Dan kamu telah memberi hadiah yang istimewa buat saya: kehadiranmu. Ternyata Vina Panduwinata benar, September Ceria, begitu kalimat yang tertera di layar ponselku.

Malam ini, sang pengirim SMS itu akan segera kutemui kembali untuk kedua kalinya setelah pertemuan pertama yang terjadi kurang lebih sebulan lalu. Pada titik ini aku sedang berdiri di seberang Hyatt. Kepalaku menengadah mengikuti julangan gedung itu lantai per lantai. Di dalam salah satu lift hotel itulah dia pernah tanpa tedeng aling-aling menerkaku sebagai seorang penganut seks bebas.

Edan nih orang, saat itu pikirku. Bagaimana mungkin aku bisa masuk ke golongan penganut paham seks bebas. Sedangkan bersetubuh saja aku belum pernah. Aku memang pernah berciuman dengan seorang perempuan. Bukan, bukan pernah. Melainkan sering. Wanda adalah perempuan yang membuatku merasakan pengalaman first-kiss sekitar empat tahun yang lalu. Dan aku yakin, itu merupakan pengalaman pertama baginya juga. Gigi depan yang saling beradu lumayan keras rasanya bisa menjadi bukti keamatiran kami berdua. Kepalaku sempat pening dibuatnya.

Hal itu kami lakukan di ruang keluarga rumah orangtuanya di Denpasar. Itu merupakan satu hal gila yang pernah aku lakukan. Sebab sebenarnya kami tidak benar-benar sendirian di rumah itu. Di dalam salah satu kamar, yang tak terlalu jauh dari ruang keluarga tersebut, ada seseorang yang sedang tidur siang: Nyonya Waluyo. Ibunda kandung Wanda. Sampai kini pun aku tidak ingin membayangkan apa yang akan terjadi apabila pada waktu itu Nyonya Waluyo keluar dari kamar tersebut dengan tujuan untuk buang air kecil atau menonton televisi atau … apalah! Dan kemudian ia menemukan putri bungsunya sedang berciuman denganku. Aku benar-benar tidak ingin membayangkan. Itu terlalu mengerikan.

Setelah ciuman pertama yang cukup menegangkan itu, kami terus melakukannya selama kurang lebih dua tahun berikutnya. Kami melakukannya di banyak tempat. Di kamar kostku, di kamar kost Wanda, di ruang tamu tanteku, di ruang tamu tantenya, di bioskop, di dalam boks ATM, di angkot, dan banyak lagi. Akan tetapi kami memang belum pernah melakukan hal yang lebih jauh dari berciuman bibir. Aku tidak tahu apakah berciuman bibir yang berkali-kali dan terkadang dilakukan di tempat umum dapat membuatku disebut penganut seks bebas? Lagipula . . . penganut? Ih, kok jadi terdengar seperti sebuah agama?

Aku sedikit terkejut bercampur bingung pada saat lift itu sedang meluncur ke lantai sebelas, karena gagal melihat dasar dari dugaannya. Dia pun belum pernah kuceritakan mengenai Wanda, apalagi hal-hal yang lebih mendetil tentangnya seperti: berapa menit kami berdua kuat berciuman, atau berapa hari kami tahan untuk tidak berciuman. Ketika kutanyai, ia pun terlihat enggan meneruskan topik tersebut. Akhirnya aku menduga ia sedang membacaku. Seperti ia yang telah kuberi ijin untuk membaca lirik-lirik lagu yang kutulis beberapa waktu belakangan ini. Apakah dari lirik-lirik itu ia telah menganalisa diriku?

Sesungguhnya ada hal lain yang lebih membuatku bingung. Aku tidak paham hubungan macam apa yang tengah kami coba jalin sekarang. Jujur saja, aku merasa takut membaca kalimat SMS semalam. Aku merasakan ada sebuah pengharapan yang sangat besar dari kalimat sesingkat itu. Dan aku tahu betul, aku bukan orang yang boleh diharapkan. Setidaknya bukan oleh orang ini. Entah mengapa, saat itu aku merasa bahwa diriku memang terlalu kotor jika dibandingkan dengan dirinya. Ataukah itu karena ia telah memberi kesan padaku sebagai orang yang sangat steril?

Aku mengeluarkan ponsel dari saku kiri celana. Bukan untuk membaca SMS itu lagi. Melainkan untuk menghubunginya dan memberitahu bahwa saat ini aku sudah berada di seberang Hotel tempat ia menginap. Ia memintaku untuk tiba di sini pukul delapan malam. Sebelum me-redial nomornya barusan, aku sempat melihat jam ponsel menunjukkan pukul delapan kurang satu menit. Aku merasa bangga atas keberhasilan kecil ini.

Sembari mendengar nada sambung berbunyi, aku baru menyadari bahwa udara malam ini mulai membuatku menggigil. Aku pun menggosok-gosokkan telapak kanan dengan lengan kiriku yang sedang sibuk menempelkan ponsel ke telinga, demi menciptakan sedikit sensasi hangat. Di seberang, tak jauh dari sebuah Wartel, aku melihat ada gerobak pedagang cilok. Ah, seandainya aku punya uang lebih malam ini, aku pasti sudah menyeberang ke sana dan membeli sebungkus untuk mengusir hawa dingin yang mulai terasa merangsek ke lambung.

Tiba-tiba saja aku merindukan sweater hitam kesayanganku. Hmm, sepertinya aku memang cukup nekad dengan memutuskan tidak mengenakannya pada malam ini. Udara kota ini luar biasa dinginnya. Aku memang tidak tahu pasti apakah udara di sini memang selalu seperti ini, atau karena memang sedang musimnya saja. Aku memang hanya seorang pendatang yang belum terlalu lama tiba di sini. Dan kedatanganku pertama kalinya ke kota ini pun bukan benar-benar atas kehendakku.

Iya, aku memang tak berdaya pada saat itu. Tubuhku diserang satu penyakit yang baru singgah pertama kalinya seumur hidupku. Seorang Dokter di Jakarta, hmm… Bekasi lebih tepatnya, memvonisku terjangkit typhus. Aku jadi mempunyai alasan kuat untuk tidak bekerja di toko software bajakan sadis itu hingga waktu yang tidak kutentukan. Aneh memang, tapi aku gembira sekali dengan kenyataan bahwa aku sedang sakit keras.

Wah, wah, tampaknya kau terlampau cepat. Mungkin aku harus sedikit ‘merewind‘ini semua ke beberapa bulan sebelumnya. Terlalu banyak hal yang kau lewatkan jika memulainya dari sini.

***

Jakarta, 5 Januari 2004

09.46 WIB

PAPI MENGHENTIKAN MOBIL VW Golf berwarna biru langit ini di bahu kanan jalan. Jalan Tanjung Duren ini merupakan jalan satu arah. Sepertinya aku juga baru pertama kalinya ke sini. Aku memang sangat jarang menyambangi Jakarta Barat. Selain karena memang belum pernah ada satu pun urusan yang harus aku selesaikan di daerah ini, nama ‘Jakarta Barat’ telah terlanjur terlukis di kepalaku sebagai daerah yang gersang.

Jujur, aku tidak menyukai daerah yang gersang. Tidak tahu apakah ini sesuatu yang manusiawi atau tidak. Sebab sering terbersit di benakku apabila kebetulan sedang melewati suatu wilayah yang bising, banyak polusi, dan kotor: kenapa masih ada manusia yang mau bermukim di daerah seperti ini? Tapi toh nyatanya bukannya tidak ada orang yang tinggal di daerah-daerah seperti itu. Banyak bahkan. Sehingga aku pun sering malu mengakui perasaan tak nyamanku untuk datang ke daerah-daerah yang gersang menurut ukuranku.

Di kepalaku memang sudah ada daerah-daerah yang hanya dengan mendengar namanya saja sudah bisa membuatku tiba-tiba merasa gerah. Jakarta Barat ini sendiri, Tanjung Priok, Glodok, Pademangan, Kampung Melayu, dan bahkan . . . Surabaya.

Suatu hari di tahun 1999, aku pergi ke Surabaya. Aku menginap di suatu losmen yang terletak di kawasan Pasar Turi. Berempat kami pergi ke sana dengan mobil Holden Premier berwarna kuning dempul. Papi, mami, adik perempuanku Ida, dan aku sendiri. Waktu itu kami menyeberangi Selat Bali dengan maksud untuk menghindari perayaan Nyepi.

Nyepi setahun sebelumnya kami tidak beranjak dari Pulau Dewata tersebut. Barangkali ada semacam rasa penasaran yang wajar dimiliki oleh setiap turis untuk megetahui seperti apa Nyepi itu sebenarnya. Dan setelah mengetahuinya, kesan apa yang kami dapat?

Ternyata Nyepi menjadi semacam neraka bagi orang-orang yang tidak tahan untuk mendekam lama di rumah. Sebab pada saat Nyepi, tidak ada seorang pun diperbolehkan berkeliaran di luar rumah kecuali para Pecalang[3]. Bukan itu saja. Pada saat Nyepi, listrik di setiap rumah wajib dipadamkan. Wajib. Sehingga tidak ada satu kegiatan pun yang dapat kami lakukan di rumah saat malam telah datang. Oh, barangkali aku perlu sekilas menggambarkan bangunan yang barusan kusebut sebagai ‘rumah’.

Kami sekeluarga tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil. Satu ruangan berbentuk kotak dengan ukuran, kira-kira, empat kali empat meter. Dimana kamar mandi berukuran, kira-kira, dua kali satu-setengah meter juga termasuk di dalam bangunan kotak tersebut. Maka bisa dibayangkan benda-benda apa saja yang mungkin masuk ke dalam ruang yang tersedia. Ada satu springbed berukuran double, plus extra-bed yang bisa disimpan di kolongnya, satu meja televisi dan kotak televisi berukuran 21 inch di atasnya, satu kompor gas lengkap dengan tabung gasnya, dan satu lemari pakaian ukuran sedang yang bisa dibongkar pasang terbuat dari bahan parasut. Jadi tak perlu kujelaskan lagi di mana kami semua tidur pada malam hari, bukan?

Sebagian orang mungkin berpikir, gila ruangan sebesar itu sih lebih pantas disebut kost-kostan daripada rumah yang layak ditinggali oleh sebuah keluarga. Tapi bagi kami ini sesuatu yang wajar. Sewajar matahari yang setiap pagi terbit di timur. Sebab memang keluarga kami telah hidup dengan cara seperti itu sejauh aku bisa mengingatnya. Lagipula aku yakin kami bukan keluarga satu-satunya di dunia ini yang tinggal berdesak-desakan di bawah satu atap. Bahkan kupikir banyak di luar sana yang harus bertahan hidup tanpa atap sama sekali.

Oke. Terlepas dari bicara tentang sesuatu yang bukan tentang diriku itu; sekarang bayangkan apa yang lebih buruk daripada terpaksa tidur padahal mata belum lagi mengantuk. Ketika hari belum terlalu malam, yang biasanya biasa dihabiskan oleh orang-orang untuk menonton televisi ataupun membaca sembari menunggu rasa kantuk datang, kegiatan-kegiatan semacam itu tidak bisa dilakukan di hari Nyepi karena tidak diperbolehkannya kami menyalakan apapun. Bahkan itu sekadar lilin! Percayalah. Karena aku pun tidak ingin memercayai hal itu sebelum mengetahuinya secara langsung.

Pada malam Nyepi pertama bagi keluargaku itu; ketika kami sekeluarga sedang berbaring di ranjang—mencoba tidur tanpa merasakan kantuk sedikit pun, ketika aku tak yakin lagi apakah mataku sedang terbuka atau terpejam karena sama sekali tak ada bedanya, ketika suara tik-tok-tik-tok jam dinding hampir membuatku gila, sekonyong-konyong aku mendengar suara kaca pecah dari luar sana. Spontan Mami yang sedikit latah berteriak: Astaghfirullahaladzim!

Saat itu aku baru tahu bahwa semua anggota keluargaku memang belum tidur. Karena berikutnya kami semua telah saling berebut untuk mengintip dari jendela kamar. Tapi tampaknya percuma. Kami tidak melihat apapun di luar sana. Hanya jalan aspal yang tidak dilalui satu jenis kendaraan pun. Akhirnya kami pun kembali pada posisi semula.

Keesokan harinya, setelah semua orang sudah diperbolehkan lagi keluar dari sarangnya masing-masing, aku mendapatkan jawaban atas rasa penasaranku semalam. Mami yang baru kembali dari pasar bercerita bahwa ia sempat bertemu dengan tetangga kami yang tinggal di seberang jalan. Bu Kadek, begitu tetanggaku itu dipanggil, mengaku bahwa semalam rumahnya disambit dengan batu yang lumayan besar. Tak kurang dari kepalan besarnya. Bu Kadek sangat merasa bersalah karena semalam menyalakan lampu ruang depan ketika sedang mencari kecap. Tidak terlalu lama sebetulnya. Tapi tampaknya pada saat yang bersamaan ada orang yang kebetulan lewat di depan rumahnya dan melihat lampu rumah itu menyala. Sebetulnya dia mampu menahan diri beberapa jam saja untuk makan tanpa kecap. Kini ia harus mengeluarkan uang untuk mengganti kaca depan rumahnya yang pecah. Ketidakmampuan menahan diri itulah yang disesali Bu Kadek.

Bagi keluargaku sendiri, mungkin bukan hanya tidak bisa makan tanpa kecap saja yang membuat Nyepi menjadi sesuatu yang kurang menyenangkan. Tapi karena belum terbiasanya kami dengan segala situasi yang harus kami hadapi selama duapuluh empat jam itu. Oleh sebab itulah pada malam menjelang Nyepi tahun berikutnya kami sekeluarga bergegas meninggalkan Pulau Bali. Di sepanjang perjalanan menuju pelabuhan Gilimanuk aku sempat menyaksikan beberapa kali duyunan orang yang sedang beramai-ramai mengarak ogoh-ogoh[4]. Saat itulah aku menyadari bahwa aku telah menyia-nyiakan sesuatu yang mungkin tidak akan pernah bisa kudapatkan jika kelak tidak lagi berada di pulau ini.

Kami tiba di kota Surabaya ketika menjelang Subuh. Saat itu aku dalam kondisi setengah sadar. Yang mampu aku ingat dalam keadaan seperti itu hanyalah mobil kami sedang melintasi pasar yang sedang dipenuhi oleh para penjaja sayuran di sisi kiri. Kedatanganku di kota ini seolah-olah disambut oleh aneka sayur mayur yang tergeletak begitu saja di tepi jalan. Hai buncis, hai terong, hai tomat, hai terong lagi… Mereka semua seolah diliputi warna sephia karena cahaya lampu berwarna kuning redup yang menyorot mereka dari suatu tempat di atas sana. Selebihnya tak ada lagi yang mampu kuingat pada malam itu.

Satu-satunya yang masih dapat kuingat jelas mengenai Surabaya sampai saat ini, selain tata kotanya yang menurutku tidak jauh berbeda dengan Jakarta, adalah sesuatu yang terjadi pada keesokan harinya. Kami sekeluarga pergi ke Tunjungan Plaza. Di sana aku melihat sebuah t-shirt band Strife tergantung di sebuah etalase. Aku bertanya kepada penjualnya berapa harga baju itu. Setelah mengetahui harganya, aku meminta uang pada mami supaya bisa membeli baju tersebut.

Sebetulnya aku bahkan belum pernah mendengar musik dari band tersebut. Yang aku tahu pada saat itu, Strife adalah band hardcore yang straight edge[5]. Saat itu aku memang baru saja mengenal musik hardcore. Walau aku juga sebetulnya tidak straight edge, karena telah mempunyai kebiasaan merokok. Dan pada saat itu kedua orangtuaku tidak mengetahui kebiasaan yang sudah aku miliki tersebut. Atau setidaknya aku berpikir bahwa mereka tidak tahu.>>

Stanza Amnesia – BAB 4: Another Stupid Pujangga

06/05/2009

BAB 4: Another Stupid Pujangga

SUARA TEPUK TANGAN bergemuruh memenuhi ruangan remang ber-AC itu. Beberapa personil band terlihat sedang meninggalkan alat-alat musik mereka dan menuju ke belakang panggung. Para pengunjung café yang duduk di sekeliling meja-meja bulat itu mulai berkasak-kusuk mengisi kekosongan yang tercipta. Seorang pelayan berkemeja putih, bercelana hitam, menghampiri salah satu meja bulat di tengah ruangan. Ia tersenyum dengan ramah pada sepasang muda-mudi yang telah memanggilnya tadi. Pria yang sedang merangkul perempuan yang duduk di sebelahnya itu menyerahkan daftar menu kepada pelayan tadi. Tak lama kemudian pelayan itu kembali meninggalkan mereka dalam keremangan.

Roman baru saja tiba di ruangan remang itu. Ia masih berdiri di dekat pintu masuk sambil menenteng whitejacko di tangan kanannya, ia mencari-cari meja yang sekiranya kosong. Matanya membesar untuk membiasakan penglihatan dengan tempat gelap ini. Kemudian ia melangkah menuju sebuah meja bulat di sudut ruangan café. Itu adalah satu-satunya meja yang ia lihat masih kosong.

Ia melewati meja-meja bulat yang telah diisi oleh pengunjung yang telah lebih dulu tiba.

Sesampainya di sana ia langsung menarik salah satu dari empat bangku yang mengitari meja bulat itu. Dan ia pun segera menjatuhkan tubuhnya ke atas bantalan empuk bangku itu. Tak lama kemudian seorang pelayan menghampirinya.

Excuse me, Sir!” Pelayan itu tersenyum, “What would you drink or eat?” tawar pelayan itu pada Roman.

“Mmh, kopi,” jawab Roman singkat.

Pelayan itu tersenyum dikulum. “Kita menyediakan beragam kopi, sir. Silakan,” Pelayan itu menyodorkan daftar menu pada Roman. Roman menerima daftar menu itu. Dia menelitinya sebentar, dan kemudian menyerahkannya lagi pada pelayan yang masih berdiri di sampingnya.

The cheapest cofee, please,” ujar Roman seraya tersenyum.

Pelayan itu mengangguk dan segera meninggalkan Roman di sana.

Roman memandang sekeliling. Tempat ini terlihat sangat eksklusif, hanya orang-orang berpakaian rapi yang ada di sini. Roman menatapi whitejacko di pangkuannya yang sudah lusuh. Ia melihat beberapa muda-mudi di sekelilingnya yang mengenakan whitejacko yang masih licin, sepertinya baru saja mereka beli malam itu.

Roman dan teman-temannya termasuk orang-orang yang tidak pernah membeli whitejacko baru. Padahal whitejacko mereka telah rusak, dan di beberapa bagiannya banyak yang sudah berlubang.

Kamu tahu? Whitejacko ini memang dirancang sedemikian rupa agar cepat rusak,” ujar Roman suatu hari pada Jaya di rumah kost mereka, “Agar kita terus-menerus menggantinya dengan yang baru.”

Sebetulnya whitejacko memang telah menjadi kebutuhan primer. Tak ada orang yang berani keluar rumah tanpa mengenakan whitejacko ini. Pakaian tebal ini memang melindungi kulit mereka dari radiasi matahari yang bisa menyebabkan kanker kulit apabila mengenai kulit mereka langsung. Dan di malam hari, pakaian ini melindungi dari hujan asam yang hampir setiap malam turun dengan tiba-tiba di kota Centralis ini. Kota ini memang telah rusak akibat polusi yang telah melanda semenjak puluhan tahun yang lalu, karena itulah para korporasi ilmuwan itu menciptakan pakaian yang bisa membuat penghuni kota ini berjalan-jalan dengan tenang pada siang maupun malam hari, tanpa harus merasa takut terhadap radiasi ataupun hujan asam.

“Hei! Kamu merebut tempat saya.”

Roman dikejutkan sebuah suara yang cukup keras di belakangnya. Ketika ia menoleh, ia melihat seorang perempuan bertubuh ramping dengan rambut panjang terurai sedang berdiri menyilangkan kedua tangannya di depan.

“Apa maksud kamu?” tanya Roman dengan tenang. Kepalanya masih menoleh ke belakang.

“Tadi saya tinggalkan meja ini sebentar untuk ke kamar mandi,” ujar perempuan berambut sebahu itu. Roman tak bergeming.

Perempuan itu mengisyaratkan pada Roman agar segera berdiri dengan tangannya yang mengibas-ngibas.

“Dengar ya,” Roman menunjuk perempuan itu. Perempuan itu sedikit terlonjak.

“Kamu memang cantik,” ujar Roman kemudian, “Tapi kita semua tidak pernah tahu, apakah yang di dalam otak dan hatimu bisa membentuk satu aspek yang sama indahnya?” Roman segera berdiri dari kursinya.

Perempuan itu mengernyitkan dahinya melihat Roman meninggalkan meja bulat itu, dan ia pun segera duduk.

Roman menyusuri meja-meja bulat di tengah ruangan itu. Sambil menenteng whitejackonya, Roman menuju ke samping panggung.

Di samping panggung ia berbicara dengan orang-orang yang mengenakan kaos berwarna hitam. Mereka adalah para koordinator acara. Salah satu dari orang itu terlihat mengangguk, dan kemudian naik ke atas panggung.

Suara distorsi berdenging sebentar memekakan telinga saat koordinator acara itu memegang gagang microphone itu. “Good evening. Karena band kesayangan kita, The Glams, masih istirahat sekitar sepuluh menit lagi, dan ada seorang pengunjung yang ingin mensumbangsihkan suaranya untuk kita semua, kita sambut saja langsung orang ini.”

Suara tepuk tangan bergemuruh. Koordinator panggung itu turun dari panggung dan segera mempersilakan Roman untuk naik. Roman pun berjalan ke atas panggung setinggi kurang lebih tiga puluh sentimeter itu.

Lampu sorot panggung yang terang, membuat Roman tidak bisa melihat wajah para pengunjung café dalam keremangan itu. Ia pun segera meraih microphone yang menempel pada tiang.

Roman tersenyum sebentar dan kemudian mulai berbicara. “Selamat malam,” tak ada jawaban yang terdengar.

“Mmh, di sini saya tidak akan menyanyikan lagu,” ujar Roman yang diiringi dengan sebuah suara erangan kecewa dari salah satu sudut ruangan remang itu. “Di sini saya akan berbicara. Bercerita lewat puisi,” ujar Roman dengan tenang, seolah dia tidak mempedulikan erangan kecewa yang terdengar barusan.

“O, another stupid pujangga!” sebuah teriakan terdengar, diiringi oleh riuh tawa yang memenuhi ruangan. Roman hanya tersenyum tipis.

“Kemarin saya melihat-lihat buku tua,” Roman memulai, “Buku itu adalah buku keluaran sekitar tahun seribu sembilan ratus sembilan puluhan akhir. Di buku itu digambarkan bahwa masa depan akan sangat berbeda dengan masa yang mereka jalani saat itu.”

Suasana café mendadak senyap. Roman berhenti sejenak, dan kemudian melanjutkan berbicara.

“Dan memang betul ramalan mereka. Dulu mereka meramalkan bahwa di masa depan,  akan ada mobil-mobil terbang dan akan ada gedung-gedung dengan bentuk yang sangat futuristik. Dan teknologi jaman sekarang telah berhasil mewujudkan mimpi mereka itu. Mobil dan motor terbang itu, sudah direalisasikan oleh levycorps,” Roman menarik nafasnya sedikit. “Tapi dulu, ada yang lupa mereka gambarkan di buku itu. Mereka tidak menggambarkan bahwa di masa depan juga masih ada rumah-rumah kumuh, masih ada kemacetan, masih ada orang miskin. Dan parahnya lagi mereka tidak menggambarkan, bahwa di masa depan, kita harus memakai whitejacko agar kulit kita tidak terkena radiasi dan hujan asam.”

So what’s the point, dude?!” teriakan dari suara yang sama terdengar lagi. Dan derai tawa itu membahana lagi.

The point is…,” suara Roman menegas,  “Kita belum berkembang sama sekali. Otak kita masih sama kecilnya seperti dulu. Kalian tahu kenapa setiap hari selalu ada bom-bom yang meneror kota Centralis ini?” tanya Roman pada keremangan di depannya itu.

Roman tak mendengar jawaban sama sekali. Hanya keheningan janggal yang ia rasakan. Ia pun melanjutkan berbicara.

“Sebab semua yang tidak digambarkan pada buku tua itu, ternyata masih ada hingga sekarang. Siapa yang bisa tahan melihat itu semua? Siapa yang bisa tahan melihat kemiskinan yang menghimpit saudara kita? Saya tidak bisa,” Roman berapi-api, bola matanya berkilat-kilat, “Orang-orang seperti saya lah, yang selalu meneror kita semua dengan bom-bom mereka. Untuk membuat kita semua sadar, bahwa dunia ini sebetulnya rapuh, dunia ini sebetulnya bobrok. Rapuh dan bobrok, karena dunia kita belum satu. Dunia kita belum seperti dunia yang digambarkan dalam lagu legendaris imagine karya John Lennon.”

Ruangan terasa semakin hening. Roman tersenyum bijak.

“Tapi saya bukan mereka,” ujar Roman lirih, “Saya tidak akan meneror kalian dengan bom. Teror saya adalah dengan kata-kata. Agar mata kita semua terbuka, agar kita menyadari bahwa dunia tempat kita tinggal ini, tidak sedang dalam keadaan yang baik-baik saja,” Roman tersenyum lagi. Ia berdehem sebentar dan kemudian mulai membacakan puisinya:

Aku yakin kemarau berakhir,

karna air telah membutir,

daun-daun menghijau dan ceria,

hawa sejuk pelepas dahaga,”

“Tapi aku tak pernah mendapat petunjuk,

kapan hati kita menyejuk,

kapan kita semua saling memeluk,

dan kapan kesombongan ego kita melapuk.

Karena kita semua, masing-masing tengah sibuk

dengan dunia yang menjanjikan kerupuk.”


“Terima kasih,” ujar Roman sebelum turun dari panggung. Ia pun meletakkan microphone ke tempatnya semula. Sambil ia turun, ia mendengar hanya beberapa orang yang memberinya tepuk tangan. Ia pun mengucapkan terima kasih pada para koordinator acara di sisi panggung itu.

Ketika Roman sedang berbasa-basi sedikit dengan para koordinator acara itu, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sebuah colekan di punggungnya. Roman menoleh ke belakang.

Pelayan tadi telah berdiri di belakangnya sambil tersenyum. “Sir, kopi anda sudah di meja,” ujarnya.

Roman baru ingat bahwasanya tadi ia telah memesan kopi. Maka ia pun segera kembali ke meja bulat di sudut ruangan tadi.

Ia kembali menyusuri meja-meja bulat di tengah ruangan, Roman merasakan tatapan para pengunjung tertumpu pada dirinya yang baru saja turun dari panggung itu.

Setibanya di dekat meja bulatnya tadi, ia melihat perempuan tadi masih terduduk di sana. Perempuan itu sedang memandangi dirinya. Roman pun lebih mendekat pada meja itu. Perempuan itu membuang wajahnya ke arah panggung. Sementara itu The Glams terlihat sedang bersiap-siap untuk tampil kembali.

“Maaf, saya cuma mau mengambil ini,” Roman mengangkat cangkir kopi yang ada di atas meja bulat itu.

“Kenapa kerupuk?” perempuan itu tiba-tiba bertanya, matanya tidak menatap pada Roman. Roman sedikit terkejut.

“Apa?” tanya Roman seakan tidak percaya bahwa perempuan ini memperhatikan puisinya tadi.

“Kenapa kerupuk?” ulang perempuan itu, kali ini ia menoleh pada Roman.

Roman sedikit salah tingkah.“Karena kerupuk..”

“Duduklah,” Perempuan itu menarik kursi di sebelahnya menjauh dari meja, dia mempersilakan Roman untuk duduk di situ.

Dengan setengah tak percaya, Roman pun duduk di kursi yang disediakan oleh perempuan asing ini. “Terima kasih,” ujarnya seraya meletakan cangkir kopinya ke ke atas meja lagi.

Alunan musik lembut mulai terdengar. Pengunjung café itu bertepuk tangan.

“Kenapa kerupuk?” ulangnya sekali lagi. Roman tersenyum.

“Kamu pernah memakan kerupuk?” Roman bertanya pada perempuan yang alisnya sedang berkerut itu. Perempuan itu mengangguk.

“Apakah kamu merasa kenyang setelah memakan kerupuk?” tanya Roman lagi. Bola mata perempuan itu menerawang ke atas sebentar, lalu ia menggeleng.

Roman tersenyum lagi. “Itulah yang saya maksudkan,” ujar Roman, “Semua kemewahan dan gemerlapnya dunia ini, adalah kerupuk. Kamu menginginkannya, tapi setelah kamu memakannya, kamu tidak akan merasa kenyang, tapi justru kamu akan terus menerus menelan kerupuk-kerupuk yang lain, sampai kamu muak.”

“Apakah dunia ini membuat kamu muak?” perempuan itu akhirnya mengeluarkan suaranya.

“Yah, sometimes,” Roman tertawa kecil. “Tapi saya percaya, dunia ini sebetulnya indah jika diisi dengan cinta. Bukan kebencian,” ujar Roman kemudian.

“Saya tidak pernah merasakan keindahan cinta,” ujar perempuan asing itu dengan nada sinis.

“Karena cinta yang kamu rasakan selama ini mungkin hanyalah cinta kerupuk,” tukas Roman.

“Hah? What do you mean?” perempuan itu terlihat sedikit kesal.

“Kamu tidak mendapatkan inti cinta itu,” tekan Roman. “Apa yang selama ini mereka lakukan hanyalah melihat cinta pada permukaannya saja. Mereka tertarik pada seseorang hanya dilihat dari materi ataupun penampilan fisik pasangannya. Dan setelah mereka mendapatkan itu, apa lagi yang mereka cari? Tentunya mereka belum mau mati bukan? Akhirnya selama mereka menjalani sisa kehidupan mereka sebelum mati, mereka telah kehilangan esensi dari hidup mereka itu; Cinta. Kompensasinya mereka akan terus menerus memuaskan diri dengan materi dan seks hanya untuk membuat hidup mereka tidak menjenuhkan. Tapi jika mereka bisa melihat cinta itu tidak pada permukaannya, hidup mereka tidak akan pernah menjenuhkan,” jelas Roman panjang lebar.

Perempuan itu merengut mendengar penjelasan Roman.

“Saya tidak mengerti,” ujar perempuan itu kemudian.

It’s okay. Semoga suatu hari kamu bisa mengerti,” kata Roman sambil mengangkat cangkir kopi di depannya, dan meneguknya sedikit.

Perempuan itu melihat pada arloji di pergelangan tangan kirinya. “Oke, saya harus pergi sekarang,” kata perempuan itu seraya siap-siap untuk berdiri, “Oiya saya belum tahu nama kamu,” Perempuan itu menjulurkan tangannya ke depan Roman.

Roman terlihat sedikit kebingungan. Akhirnya ia menjabat tangan perempuan itu.

“Wirdo,” kata Roman ragu.

“Wirdo? Weirdo maksudmu?” perempuan itu tersenyum. “Nama saya Tania,” ujar perempuan itu.

“O, Tania. I’ll keep you in my memory,” canda Roman sambil tersenyum. Dan perempuan itu pun tertawa. Lalu ia pergi meninggalkan Roman sendiri di meja bulat itu.

Roman masih terduduk di sana. Ia sedikit menyesali kebohongannya. Wirdo? Nama apa itu? Roman merutuk dalam hati.

Tapi selama ini memang Roman dan teman-temannya tidak pernah membuka identitas mereka masing-masing saat mereka berekspresi. Selama Roman menulis puisi, Roman tidak pernah mencantumkan namanya. Atau saat ia membacakan puisi di depan umum, ia juga tidak pernah membuka identitasnya. Lagipula ini pertama kalinya ada orang yang mengajaknya berkenalan saat dia berekspresi.

Teman-temannya juga begitu. Thomas tidak pernah mencantumkan nama ataupun tanda tangan di bawah pamflet-pamflet gambar tangannya, dan Jaya juga tidak pernah mengakui bahwa komik-komiknya itu adalah buatannya. Albert yang dengan sukarela menyebarkan manifesto ketiga kawannya itu pun tidak pernah menyebutkan bahwa semua manifesto itu adalah buatan kawan-kawannya.

Yang jelas, mereka bertiga hanya merasa nyaman ketika berekspresi dengan ‘memakai topeng’.

Tapi malam ini, Roman merasa ada yang salah dengan memperkenalkan dirinya dengan nama lain pada perempuan tadi, Tania. Perempuan itu dirasa Roman sangatlah spesial. Sebab sepanjang pengalamannya selama ini, tidak pernah ada perempuan yang tertarik dengan puisi-puisinya. Ada keinginan untuk terus berhubungan dengan Tania dalam diri Roman. Tapi apakah itu berarti Roman harus terus menerus membohongi perempuan itu soal identitasnya?

Roman pun memanggil seorang pelayan café yang sedang berdiri di dekat situ. Pelayan itu menghampirinya.

“Tolong bon-nya, Sir,” pinta Roman pada sang pelayan.

***

Roman keluar dari café Starbig itu. Suara alunan nada musik dari band The Glams terdengar sampai keluar. Ia kenakan whitejacko lusuhnya dan ia berjalan menyusuri pelataran parkir café itu. Mobil-mobil dan levymobile-levymobile terjejer rapi di atas pelataran parkir beraspal hitam keabu-abuan itu.

Ketika ia melewati salah satu levymobile yang sedang terparkir di tengah-tengah levymobile yang lain. Ia mendengar suara desahan dari dalam levymobile berwarna merah tua itu.

Roman menghentikan langkahnya sebentar. Ia melihat levymobile berwarna merah tua itu sedang dalam keadaan terguncang-guncang. Karena rasa penasaran, Roman mendekati levymobile itu perlahan. Ia melihat bayangan manusia di dalamnya sedang naik turun. Seiring dengan gerakan naik turun itu, suara desahan-desahan itu semakin menjadi-jadi.

Tanpa disadari lagi, Roman sudah berada sangat dekat dengan levymobile merah tua itu, sehingga ia bisa melihat apa yang sedang terjadi dalam levymobile itu dari kaca belakangnya yang tidak terlalu pekat.

Roman nyaris berteriak melihat siapa yang ada di dalam levymobile itu.

“Hei!” pria berjenggot tipis di dalam levymobile itu berteriak sambil melotot padanya. Roman tersentak dan melompat mundur.

“Oh, I’m sorry,” seru Roman seraya berlari dari sana dengan secepat-cepatnya.

“Hey kamu! Jangan lari, dasar tukang intip!” suara teriakan terdengar jauh di belakang saat Roman berlari keluar dari pelataran parkir dan menyeberangi jalanan setengah basah itu. Sebuah mobil yang sedang melaju nyaris menghantamnya, tapi mobil itu masih sempat untuk mengerem. Suara decitan ban mobil yang menggesek aspal terdengar memekakan telinga.

“Hey you! Get out of the street!” orang di dalam mobil itu mencaci. Roman terus berlari menuju trotoar seberang jalan.

Mata Roman masih terbelalak. Ia terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya.

Apakah perempuan yang saya lihat itu adalah Tania? Apakah perempuan di dalam levymobile tadi adalah Tania? Roman terus bertanya-tanya dalam dirinya.>>

Stanza Amnesia – BAB 3: Hasrat

06/05/2009

BAB 3: Hasrat

JALAN UTAMA CENTRALIS sudah agak lengang. Hanya beberapa mobil yang masih melintas di jalanan yang setengah basah. Di angkasa, levymobile pun sudah tidak sebanyak sore tadi. Suara desingan mesin hanya sesekali terdengar di angkasa. Albert dan Thomas sedang duduk di tangga depan kantor polisi. Mereka menunggu Roman yang sedang berusaha untuk membebaskan Jaya dan kekasihnya.

Asap rokok Albert mengenai wajah Thomas yang duduk di sampingnya. Thomas terbatuk.

“Hei! Would you stop that bad habit?” Thomas berseru pada temannya sembari mengibas-ngibaskan tangan ke depan hidungnya.

No, thanks! I can not think without this,” ujar Albert sambil menghisap rokoknya lagi.

“O, yeah? Have you ever think?” tanya Thomas sinis. Albert mendelik.

Tak lama kemudian pintu hidrolik di belakang mereka terbuka. Thomas dan Albert menoleh. Dan keluarlah Jaya sambil memeluk Sasha yang terlihat sangat lemah, perempuan berambut pirang pendek itu bersandar di pundak Jaya. Thomas bangkit dari duduknya, diikuti oleh Albert.

Thank you, Sir!” ujar Roman kepada seseorang di dalam gedung seraya ia membuka kembali pintu hidrolik yang hampir tertutup itu. “Ayo kita pulang,” ia mengajak teman-temannya.

“Kak Roman,” Jaya berseru.

Roman menoleh.

“Saya antar Sasha dulu ke rumah kost temannya, kalian pulang duluan,” ujar Jaya. Wajah kecil Sasha terlihat pucat.

Roman mengangguk. “Kita tunggu di rumah,” ujar Roman cepat, dan ia pun segera menuruni tangga depan kantor polisi itu. Albert dan Thomas menyusulnya. Mereka bertiga berjalan menyusuri trotoar.

Malam yang temaram itu disinari lampu jalanan berwarna kuning di tiap beberapa meter trotoar. Jaya dan Sasha berjalan berlawanan arah dari ketiga teman mereka. Sasha terus menempel pada tubuh kekasihnya.

“Hey! Bagaimana cara kamu mengeluarkan mereka?” Albert bertanya pada Roman yang sedang melangkah cepat-cepat. Albert berusaha menyamai kecepatan temannya yang berjalan di depannya.

“Yah, untungnya mereka percaya kalau saya adalah kakaknya,” ujar Roman.

“Dan uang itu cukup untuk menebus mereka?” tanya Albert lagi. Roman mengangguk.

“Ya, tapi itu berarti kita harus menabung lagi,” keluh Thomas yang berjalan di samping Roman. Roman hanya melirik teman di sampingnya itu sambil tersenyum tipis.

“Kalian tahu? Tadi sore orang-orang itu berekspresi lagi?” Roman berujar kemudian.

“Siapa? Mayhem? Evorevo? Child of Nihil?” tanya Albert sembari terkekeh-kekeh.

“Sepertinya sih Evorevo,” Roman tersenyum.

“Dari mana kamu tahu?” tanya Albert di belakangnya.

“Tadi kudengar perbincangan polisi di ruang resepsionis. Low explosive, mereka menggunakan low explosive. Dan tak ada korban jiwa, sangat terorganisir rapi,” kata Roman sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Oya?” Thomas bertanya sambil mengangkat dahinya. “Apa yang mereka ledakkan kali ini?” tanya Thomas lagi dengan antusias.

Roman tersenyum. “Jangan kaget ya,” Roman menoleh pada Albert yang berjalan di belakangnya. Albert menelan ludahnya, ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.

“Area penyimpanan bis jemputan majorcorps,” ujar Roman kemudian.

“Oooh!” Albert mengerang panjang, “Kenapa harus saya?”

“Mereka pahlawan, Albert,” ujar Thomas sambil tertawa. “Mereka ingin menyelamatkan kamu dan teman-teman pekerja lainnya dari eksploitasi yang dilakukan oleh majorcorps,” Thomas terkekeh-kekeh.

“Ya, tapi mereka tidak akan berhasil, majorcorps tidak akan langsung bangkrut hanya karena bis-bis jemputan pegawai mereka hancur,” Albert setengah mengeluh.

“Setidaknya besok pagi kamu akan tersendat untuk ke pabrik, karena kamu dan pegawai lainnya harus naik transportasi umum,” ujar Roman datar.

Thomas tertawa mendengar Albert yang tak habis-habisnya mengeluh itu.

“Ya, tapi ini sudah tahun 2027. Dan mereka masih melakukan cara-cara vandal yang sama seperti dua puluh tahun lalu pernah dilakukan. Untuk apa?” Albert menggerutu.

“Kamu pikir cara yang kita lakukan tidak mengulang apa yang pernah dilakukan oleh orang-orang dua puluh tahun yang lalu?” tanya Thomas tegas. Albert mendengus. Roman berkedip-kedip.

***

“Kamu pikir kamu mengerti apa itu cinta, Jay?” bentak Roman. Jaya duduk di salah satu bangku di sekeliling meja kayu panjang itu. Roman dan Thomas duduk di seberangnya. Sementara itu Albert duduk sambil merokok di sofanya, televisi di depannya hidup, tapi sepertinya Albert tidak menyimaknya.

“Kenapa kamu berkata seperti itu, Kak?” tanya Jaya pada Roman. Roman memandangi teman di seberangnya yang berkulit sawo matang dan bertubuh kecil itu dengan geram.

Jaya memang paling muda di antara yang lain. Hanya dia yang masih duduk di bangku sekolah. Sementara Roman dan Thomas telah menjadi mahasiswa di salah satu universitas swasta di kota Centralis ini. Dan Albert, yang tertua di antara mereka, dia adalah seorang pekerja di perusahaan majorcorps. Karena itulah Jaya memanggil teman-temannya yang lain dengan panggilan: ‘Kakak’.

“Kamu pikir mencuri di mini market itu adalah bentuk perjuangan cinta kalian?” Roman menekan. Jaya hanya menunduk dalam.

“Kamu bosan dengan singkong?” tukas Roman.

“Sasha ingin merasakan daging gulung,” ujar Jay lirih.

Roman menggeleng pasrah. Thomas berkedip-kedip sambil merunduk sedikit, seakan-akan iba mendengar suara Jaya yang sedikit memelas.

“Lalu buat apa kita capek-capek berkebun di belakang rumah ini?” tanya Roman dengan suara yang tegas.

Jaya tidak menjawab. Ia masih menunduk.

“Ternyata kamu tidak sehebat Albert, Jay,” ujar Roman dengan suara rendah.

Albert menoleh ke arah meja panjang, “Kenapa saya dibawa-bawa?” sahut Albert dari sofa.

“Lihatlah Albert!” Roman menunjuk Albert yang sedang duduk di depan televisi itu, “Lihatlah bagaimana tivi merayunya. Hand-phone terbaru, white-jacko termodis, levycycle tercanggih, semuanya yang serba menggiurkan itu setiap hari dicekoki padanya melalui layar kaca itu. Tapi Albert tetap tidak terpengaruh sama sekali,” wajah Roman memerah menahan kesal.

“Itu karena saya tidak punya uang,” celetuk Albert. Thomas tersenyum.

Roman menggeleng. “That’s not the point, dude!” sergah Roman. “Setidaknya kamu tidak ngeyel seperti anak bengal ini,” ujar Roman sambil menunjuk wajah Jaya. Jaya masih terus menundukkan kepalanya.

“Kamu tergoda dengan dunia yang menjanjikan kerupuk,” ujar Roman kemudian dengan tegas. Jaya mengangkat wajahnya dengan wajah yang bertanya.

“Kamu mengerti?” tanya Roman. Jaya menggeleng.

Roman menggaruk-garuk dagunya. “Apakah kamu pikir kamu bisa bahagia dengan apa yang dunia ini tawarkan? No, dude!”

Mata Jaya menyipit, ia mencoba mencerna kata-kata Roman barusan.

“Saya pikir, kamu dan Sasha bisa menemukan kebahagiaan kalian sendiri. Tidak perlu mengikuti standard kebahagiaan dunia ini,” nada suara Roman mulai melunak. “Daging gulung, huh?” ungkit Roman.

Jaya menunduk malu. Thomas memandangi Jaya di seberangnya dengan iba.

I’m sorry,” ujar Jaya lirih masih dalam keadaan tertunduk.

“Tidak perlu meminta maaf. Yang penting kamu mengerti apa yang saya katakan,” sahut Roman. Jaya mengangguk lemah.

Roman menghela nafas. “Oke,” Roman mencoba merubah suasana, “Materi kalian semua sudah siap?” tanya Roman kemudian kepada teman-temannya di meja itu.

Thomas memamerkan gambarnya yang sudah selesai ke depan wajah Roman. Roman mengambil kertas ukuran A4 itu dari tangan Thomas. Lalu ia menelitinya.

“Bagus,” ujar Roman, “Tapi sepertinya kita sudah tidak ada uang untuk meng-copy karya kamu ini,” kata Roman sambil melirik pada Jaya. Jaya terlihat gelisah disindir seperti itu.

So?” tanya Thomas sambil mengangkat bahu.

“Kamu harus pikirkan cara lain untuk berekspresi,” jawab Roman. Thomas menggaruk-garuk kepalanya.

“Kamu juga, Jagoan,” Roman menunjuk wajah Jaya, “Kita tidak punya uang lagi untuk meng-copy komik-komik kamu,” ujar Roman.

“Lalu apa yang bisa kita lakukan sekarang?” Jaya bertanya.

“Yang jelas, kita tidak akan berhenti. Besok malam saya akan ke Café Starbig itu,” Roman seperti berucap pada dirinya sendiri.

“Café mahal itu? Ada apa di sana?” Thomas bertanya.

“Besok malam, malam rabu, ada live music di sana,” Roman menyeringai.>>